LECCE, OneSportsID – Juventus sukses mengamankan kemenangan saat menyambangi markas Lecce di Stadion Via del Mare pada lanjutan Serie A, Minggu (10/5) dini hari WIB.
Namun, torehan tiga poin tersebut tidak serta merta membuat sang allenatore, Luciano Spalletti, tersenyum puas. Ia justru dibuat jengkel oleh performa anak asuhnya sendiri.
Si Nyonya Besar sejatinya mencatatkan start yang sangat fenomenal. Laga baru berjalan tak kurang dari 15 detik, striker andalan mereka, Dusan Vlahovic, sudah berhasil menggetarkan jala tuan rumah lewat sebuah gol kilat.
Dominasi yang Minim Eksekusi
Banyak pihak mengira gol cepat tersebut akan menjadi pembuka keran gol bagi pesta kemenangan Juventus. Kenyataannya, gol Vlahovic justru menjadi satu-satunya torehan angka dalam pertandingan tersebut.
Sepanjang laga, dominasi Juventus sebenarnya sangat terasa. Secara keseluruhan, mereka melepaskan total 15 percobaan tembakan dengan 6 di antaranya mengarah tepat ke gawang (on target).
Salah satu peluang paling matang datang dari kaki Francisco Conceicao, namun nahas, upayanya hanya membentur tiang gawang.
Sebaliknya, Lecce yang terus ditekan bukan tanpa perlawanan. Mereka sanggup mencuri momentum dengan melahirkan delapan percobaan (tiga on target), termasuk tiga peluang yang sangat mengancam pertahanan Juve di babak kedua.
Spalletti Sebut Kesalahan “Copy-Paste”
Kegagalan Juventus untuk segera “membunuh” pertandingan (kill the game) membuat Luciano Spalletti murka.
Mantan pelatih Inter Milan, AS Roma, dan Napoli ini secara terang-terangan mengkritik mentalitas skuadnya yang dinilai gampang berpuas diri dan mudah kehilangan konsentrasi.
“Kami sudah mengatakan soal ini cukup lama, kami mengulang kesalahan yang sama. Kami mencetak gol cepat, lalu gagal menghabisi permainan. Ini seperti salin-tempel (copy-paste) dari kesalahan-kesalahan sebelumnya,” sungut Spalletti saat diwawancarai oleh Sky Italia.
Spalletti menyoroti bagaimana transisi tim yang awalnya memegang kendali penuh bisa tiba-tiba goyah akibat kesalahan-kesalahan mendasar.
“Kami mendominasi sebagian besar permainan, dan sepertinya kami memiliki kontrol penuh. Kemudian datanglah momen di mana kami kehilangan konsentrasi dan membuat operan-operan yang tidak bisa dipercaya di level sepak bola yang kami mainkan,” jelasnya menahan frustrasi.
Krisis Pengambilan Keputusan di Lini Depan
Satu aspek krusial yang membuat Spalletti kehabisan kata-kata adalah buruknya pengambilan keputusan para pemain Juventus di sepertiga akhir lapangan.
Saat mendapatkan ruang serang, para pemain kerap memilih opsi yang keliru, sehingga momentum emas terbuang sia-sia.
“Tampaknya kami tidak mampu menjaga fokus, determinasi, dan soliditas untuk sepanjang pertandingan.
Ketika kami membuat kesalahan-kesalahan itu, tensi dan ketakutan mulai masuk, kemudian pertandingannya jadi seimbang,” tegas Spalletti.
Bagi pelatih berkepala plontos tersebut, pertandingan melawan tim yang bermain bertahan seperti Lecce mutlak harus dimenangkan dengan marjin gol yang lebih meyakinkan.
“Sebuah pertandingan seperti ini enggak seharusnya berakhir 1-0. Kami kan hampir tidak membiarkan mereka keluar dari daerah pertahanannya sendiri, dan ada banyak contoh di mana kami punya dua opsi serangan, tapi kami selalu memilih opsi ketiga yang paling buruk. Inilah kami,” pungkasnya dengan nada menyengat.

