LONDON – Meskipun harus menelan pil pahit kekalahan dari Manchester City di final Carabao Cup sebelum jeda internasional Maret, perjalanan Arsenal di musim 2025/2026 masih jauh dari kata usai.
Skenario impian masih terbuka lebar bagi skuad asuhan Mikel Arteta. The Gunners saat ini memimpin klasemen Premier League dengan keunggulan sembilan poin dari Man City.
Dengan tujuh laga tersisa, takdir untuk meraih gelar liga pertama sejak era Invincibles 2004 kini sepenuhnya berada di tangan mereka.
Di pentas Eropa, Arsenal juga diunggulkan untuk menjuarai Liga Champions dan bersiap menghadapi Sporting CP di babak perempat final.
Jelang laga krusial tersebut, sorotan utama tertuju pada satu nama: Viktor Gyokeres.
Sang striker bintang yang didatangkan Arsenal dari Sporting CP pada bursa transfer musim panas lalu.
Pertanyaannya, setelah ditebus dengan harga mahal, bagaimana sebenarnya rapor Gyokeres di musim perdananya di London Utara?
Harga Mahal Sang Striker Baru
Pada musim panas 2025, Arsenal membutuhkan sosok striker pembunuh di kotak penalti.
Setelah dikaitkan dengan nama-nama muda seperti Alexander Isak hingga Benjamin Sesko, pilihan akhirnya jatuh pada Viktor Gyokeres.
Arsenal rela merogoh kocek hingga £63,5 juta demi mengamankan jasa striker asal Swedia yang saat itu berusia 27 tahun tersebut.
Ia diikat dengan kontrak berdurasi lima tahun dengan gaji pokok £200.000 per pekan.
Angka yang cukup fantastis untuk seorang pemain yang dulunya sempat kesulitan saat berseragam Brighton dan Coventry City sebelum meledak di Portugal.
Statistik Gol: Terlambat Panas Namun Efektif
Untuk menilai kesuksesannya, hal pertama yang disorot tentu adalah kontribusi gol.
Dari 43 penampilannya musim ini di semua kompetisi, Gyokeres telah menyarangkan 17 gol, di mana 11 di antaranya tercipta di Premier League.
Angka ini mungkin terlihat biasa saja, namun grafiknya menunjukkan peningkatan tajam.
Di awal musim ia sempat kesulitan (hanya mencetak 4 gol dari 21 laga awal), namun Gyokeres baru saja mencetak 6 gol dalam 8 penampilan terakhirnya di liga.
Dari kacamata statistik penyelesaian akhir, Gyokeres sebenarnya sangat klinis. Ia mencetak 11 gol di Premier League hanya dari rasio Expected Goals (xG) sebesar 9,35.
Ini membuktikan bahwa Gyokeres mampu memaksimalkan peluang yang ada, dan minimnya gol di awal musim sebagian besar disebabkan oleh proses adaptasi dengan taktik Arteta.
Lebih dari Sekadar Mesin Gol
Menariknya, ekspektasi publik yang awalnya mengira Gyokeres hanya akan menjadi target-man pemburu gol ternyata meleset. Di bawah arahan Arteta, perannya jauh lebih dinamis.
Peta panas pergerakannya (heat map) menunjukkan bahwa ia sangat aktif menjemput bola ke lini tengah, melebar ke sayap, dan membuka ruang untuk pemain seperti Bukayo Saka.
Kemampuannya menahan bola (hold-up play) sangat krusial bagi skema serangan Arsenal.
Bahkan pelatih Timnas Swedia, Graham Potter, memuji kemampuan bertahan dan kontribusi kolektif Gyokeres di luar urusan mencetak gol.
Kesimpulan: Sukses atau Gagal?
Secara keseluruhan, musim perdana Gyokeres sejauh ini bisa dikatakan berhasil, meski dengan catatan.
Ia didatangkan dengan harapan mencetak puluhan gol seperti musim terakhirnya di Sporting (54 gol), namun realitas kompetisi di Inggris dan perannya yang lebih kompleks membuatnya harus beradaptasi.
Statusnya sebagai “pembelian sukses” baru bisa benar-benar dinilai di akhir musim.
Jika Gyokeres mampu membantu Arsenal mempertahankan puncak klasemen Premier League atau melaju jauh di Liga Champions, ia akan dikenang sebagai pahlawan.
Namun, jika Arsenal kembali nirgelar, beban harga mahal £63,5 juta itu pastinya akan kembali menghantuinya.

