Satu Dekade Kontroversi Gianni Infantino di FIFA: Rekor Cuan, Politisasi, hingga Rencana “Jual” Piala Dunia

Sejak menggantikan Sepp Blatter, kepemimpinan Infantino sukses mendatangkan pendapatan selangit bagi FIFA. Namun, manuver politik, ekspansi turnamen sebagai alat pelanggeng kekuasaan, hingga pembentukan FIFA Forward Enterprise memicu kecaman global.

- Advertisement -

ZURICH, ONESPORTS.ID – Ketika Gianni Infantino naik ke kursi nomor satu Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) pada awal 2016, ia membawa mandat suci: membersihkan sepak bola dari noda korupsi yang ditinggalkan pendahulunya yang terhina, Sepp Blatter. Namun, setelah 10 tahun memegang kendali, warisan pria keturunan Swiss-Italia itu justru dipenuhi tanda tanya besar.

Di satu sisi, Infantino adalah “mesin uang” yang sukses memfasilitasi rekor pendapatan fantastis bagi FIFA. Di sisi lain, manuver, kebijakan, dan kedekatannya dengan tokoh-tokoh politik dunia membuat banyak pihak kini memandangnya sebagai seorang autokrat yang menguasai olahraga paling populer di jagat raya.

Bagaimana seorang mantan Direktur Urusan Hukum UEFA ini bertransformasi menjadi sosok paling kontroversial di sepak bola modern? Berikut adalah bedah mendalam (timeline) deretan kontroversi Gianni Infantino selama satu dekade kepemimpinannya.

- Advertisement -

Skandal Etik dan Permainan Kekuasaan (2016-2020)

Tak lama setelah memenangi pemilihan Presiden FIFA pada 2016 (mengalahkan kandidat favorit Sheikh Salman), integritas Infantino langsung diuji. Ia diselidiki oleh Komite Etik FIFA terkait penerimaan dua fasilitas penerbangan jet pribadi. Meski ia divonis bersih, kontroversi tidak berhenti di situ.

Setahun berselang, ia kembali dituduh memfasilitasi pemecatan mendadak dua ketua dan sejumlah anggota Komite Etik. Jaksa Swiss, Cornel Borbely, yang saat itu menyelidiki dugaan intervensi Infantino dalam pemilihan Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) untuk menyingkirkan Issa Hayatou, menyebut langkah pemecatan tersebut sebagai keputusan “politis” agar FIFA tak lagi memiliki badan independen yang mengawasi korupsi.

- Advertisement -

Infantino juga diselidiki atas pertemuan rahasianya dengan Jaksa Agung Swiss saat itu, Michael Lauber. Meski akhirnya dibebaskan dari segala tuduhan pada Agustus 2020, insiden ini meninggalkan noda kecurigaan di mata publik.

image 21

“Hari Ini Saya Merasa…” – Pidato Qatar dan Hipokrisi Barat (2022)

Salah satu momen paling ikonis sekaligus absurd dari kepemimpinan Infantino terjadi tepat sehari sebelum Piala Dunia 2022 bergulir di Qatar. Merespons kecaman bertubi-tubi dari negara-negara Barat terkait perlakuan Qatar terhadap pekerja migran dan kelompok minoritas, Infantino justru menyerang balik.

Ia menuding negara-negara Barat sebagai pihak yang munafik karena menutup mata terhadap investasi korporat mereka di kawasan Teluk.

“Saya orang Eropa. Atas apa yang telah kita lakukan di seluruh dunia selama 3.000 tahun terakhir, kita seharusnya meminta maaf selama 3.000 tahun ke depan sebelum mulai memberikan pelajaran moral kepada orang lain,” tegasnya. Pidato tersebut kemudian ditutup dengan kalimat yang viral: “Hari ini, saya merasa menjadi orang Qatar. Hari ini, saya merasa menjadi orang Arab. Hari ini, saya merasa menjadi pekerja migran.”

Aliansi Arab Saudi dan “Piala Perdamaian” Donald Trump (2024-2025)

Memasuki siklus Piala Dunia berikutnya, arah kiblat FIFA semakin condong ke Timur Tengah. Arab Saudi terbukti menjadi salah satu sekutu terbesar Infantino.

- Advertisement -

Hubungan ini diperkuat oleh masuknya raksasa minyak milik negara Saudi, Aramco, serta Public Investment Fund (PIF) sebagai sponsor utama FIFA. Aliansi ini memuncak pada penetapan Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Proses bidding ini memicu kontroversi karena FIFA dituding sengaja mengubah aturan kawasan hanya untuk meloloskan Saudi sebagai calon tunggal.

Di ranah politik, Infantino melangkah lebih jauh. Pada Desember 2025, ia secara sepihak menganugerahkan FIFA Peace Prize (penghargaan baru yang diciptakannya) kepada sekutu dekatnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, setelah Trump gagal mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian.

Berikut adalah ringkasan rekam jejak kontroversi utama Infantino:

Tahun / EraIsu KontroversiKeterangan / Dampak
2016-2020Penyelidikan Etik FIFATuduhan intervensi pemilihan CAF dan pertemuan rahasia dengan Jaksa Swiss (Divonis bersih).
2022Piala Dunia QatarPidato menyerang Barat dan membela catatan HAM Qatar.
2024Bidding Piala Dunia 2034Arab Saudi maju sebagai calon tunggal setelah aturan regional FIFA disesuaikan secara mendadak.
2025FIFA Peace PrizeMemberikan penghargaan politis secara sepihak kepada Donald Trump.
2026Pembentukan FFERencana privatisasi sebagian operasi komersial Piala Dunia.

Cuan Fantastis, Ekspansi, dan “Menjual” Piala Dunia (2026)

Puncak dari manuver Infantino terjadi pada siklus Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. FIFA dilaporkan meraup keuntungan luar biasa sebesar $15 miliar. Keuntungan ini didorong oleh visi ekspansi Infantino yang melebarkan peserta menjadi 48 tim (dengan rumor menjadi 64 tim pada 2030).

Namun, pengamat melihat ekspansi ini bukan sekadar untuk kemajuan olahraga. Memberikan kuota lolos yang lebih besar kepada negara-negara kecil dinilai sebagai alat tukar guling (quid pro quo) agar Infantino terus mendapat suara dalam pemilihan Presiden FIFA berikutnya.

- Advertisement -

Kontroversi pamungkasnya adalah peluncuran FIFA Forward Enterprise (FFE). Merujuk pada laporan The Times dan Financial Times, FIFA berencana menjual sekitar 20% saham operasional komersial Piala Dunia kepada konsorsium swasta (termasuk JP Morgan dan Joshua Kushner) dengan valuasi mencapai $20 miliar.

- Advertisement -

Langkah ini sontak memicu kemarahan dari dunia sepak bola, termasuk Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, yang menegaskan bahwa “Piala Dunia bukanlah sebuah produk” dan “tidak pernah menjadi milik siapa pun untuk dijual.”

ONESPORTS Insight

Kepemimpinan Gianni Infantino menegaskan satu realitas pahit dalam industri sepak bola modern: kekuasaan politik dan dominasi modal telah mengaburkan batas antara tata kelola olahraga dan oligarki korporat. Infantino telah menjadikan FIFA jauh lebih kaya dari sebelumnya, namun harganya sangat mahal; hilangnya transparansi dan bergesernya roh sepak bola dari olahraga milik rakyat menjadi sekadar aset komersial yang diperdagangkan.

Future Outlook

- Advertisement -

Nasib dari inisiatif FIFA Forward Enterprise (FFE) kini berada di tangan asosiasi anggota. Jika disetujui, ini akan menjadi tonggak sejarah di mana Piala Dunia resmi diprivatisasi secara parsial. Patut dinantikan apakah akan ada perlawanan konkret dari konfederasi besar seperti UEFA, atau apakah kekuatan uang kembali membungkam protes.

Mingguan

Klasemen Liga Inggris: Man City & Arsenal Bersaing Ketat, MU Terpuruk!

Update terbaru klasemen Liga Inggris 2026. Man City ditempel ketat Arsenal di puncak klasemen, sementara MU cetak rekor start terburuk dalam 40 tahun.

Rekap Hasil Liga Inggris: Arsenal Comeback, Chelsea Menggila, MU Kian Merana!

Rekap hasil Liga Inggris pekan keenam 2026. Arsenal tunjukkan mental juara, Chelsea bantai Bournemouth 5-1, dan MU catat start terburuk dalam 40 tahun.

Kasus Manchester City: Terbukti Langgar FFP, Ini Nasib Bandingnya!

Manchester City terbukti bersalah atas 100+ pelanggaran finansial Premier League. Simak temuan kontrak fiktif, kesaksian palsu, dan jadwal banding di sini.

Timnas Malaysia Catat Rekor Aneh: 3 Fakta Gagal Juara Meski Tak Pernah Kebobolan!

Ironi di ajang FIFA ASEAN Cup 2026. Timnas Malaysia mencetak rekor clean sheet sempurna tanpa kebobolan satu gol pun, namun gagal melaju ke final. Simak faktanya!

Berita Terkait

Kontroversi Cristiano Ronaldo Nodai Momen Haru Pensiun Lione...

Momen bersejarah pensiun Lionel Messi dari Argentina dirusak oleh kontroversi Cristiano Ronaldo yang ngambek dan tinggalkan skuad Portugal. Simak faktanya!

Copa America 2028: Era Baru Tanpa Messi & Isu Ekspansi 2...

Copa America 2028 akan menjadi ujian perdana Timnas Argentina tanpa Lionel Messi. Simak bocoran tuan rumah, jadwal, dan wacana format 20 tim di sini!

Kasus Manchester City: Terbukti Langgar FFP, Ini Nasib Bandi...

Manchester City terbukti bersalah atas 100+ pelanggaran finansial Premier League. Simak temuan kontrak fiktif, kesaksian palsu, dan jadwal banding di sini.

Rekap Hasil Liga Inggris: Arsenal Comeback, Chelsea Menggila...

Rekap hasil Liga Inggris pekan keenam 2026. Arsenal tunjukkan mental juara, Chelsea bantai Bournemouth 5-1, dan MU catat start terburuk dalam 40 tahun.

Prediksi Chelsea vs Bournemouth: Titik Balik Nasib Xabi Alon...

Prediksi Chelsea vs Bournemouth di Liga Inggris 2026. Laga krusial bagi Xabi Alonso untuk akhiri tren tanpa kemenangan The Blues. Simak ulasannya di sini!

Chelsea Menang 5-1, Xabi Alonso Bawa Kabar Buruk Cedera Reec...

Chelsea sukses bantai Bournemouth 5-1, namun manajer Xabi Alonso mengonfirmasi cedera Reece James di bagian lutut. Simak durasi pemulihannya di sini.

Trending

Jadwal Lengkap Timnas Indonesia U-19 di Piala AFF ...

Berstatus juara bertahan, skuad Garuda Muda siap memulai kampanye di ajang ASEAN U-19 Boys Championship 2026 di depan publik sendiri.

Portugal vs Norwegia: 5 Fakta Mengejutkan Era Baru...

Panggung megah kompetisi elite benua biru kembali menyajikan pertarungan yang sangat dinantikan oleh jutaan pasang mata. Pertandingan akbar yang mempertemukan ...

Yunani vs Jerman: 5 Fakta Taktik & Misi Balas ...

Kompetisi antaranegara paling bergengsi di benua biru kembali menghadirkan lakon drama yang sangat menguras emosi. Partai big match yang mempertemukan Yunani...

5 Alasan Jenius Emil Audero Nekat Maju Menyerang S...

Kiper Timnas Indonesia, Emil Audero, akhirnya membongkar alasan taktis di balik aksi nekatnya ikut menyerang saat menghancurkan Bangladesh 9-2. Simak selengkapnya!