MODENA – Siapa bilang pabrikan mobil sultan nggak bisa kena mental? Penjualan lagi nyungsep parah, merek mewah asal Italia, Maserati, akhirnya bikin gebrakan comeback yang nggak kaleng-kaleng. Demi menyelamatkan masa depan, pabrikan berlogo trisula ini resmi collab lintas benua bareng raksasa asal China, Huawei dan JAC Motors, buat ngegas produksi mobil listrik (EV) baru!
Kabar dari Future Cars Daily nyebutin kalau trio maut ini bakal ngelahirin dua amunisi EV baru. Pertama, ada SUV listrik bongsor yang disiapin buat nemenin Grecale Folgore. Kedua, ada Grand Tourer (GT) listrik super mewah yang bakal nerusin legacy dari GranTurismo Folgore. Bocorannya sih, mobil GT listrik ini yang bakal dirilis duluan ke pasaran.
Bagi Tugas: Otak China, Wajah dan Nyawa Italia
Kolaborasi ini bener-bener nerapin sistem bagi tugas yang win-win solution banget. Huawei bakal supply semua urusan “otak” alias teknologi canggihnya, mulai dari smart cockpit, sistem auto-pilot Qiankun ADS, sampai teknologi dapur pacu listriknya. Sementara itu, urusan teknis dan produksi fisik bakal diserahin ke pabrik JAC Motors di fasilitas Maextro, Hefei, China.
Terus Maserati ngapain? Tenang, mereka nggak lepas tangan. Maserati bakal tetep jadi director utama buat urusan desain bodi, identitas kemewahan, dan jaringan penjualan global. Uniknya, khusus buat pasar domestik China, mobil ini bakal dijual pakai brand Maextro. Tapi buat pasar internasional, logo trisula kebanggaan Maserati bakal tetap terpampang gagah.
Skema Rakit Lintas Negara
Biar “ruh” mobil Eropa-nya nggak luntur, Maserati pakai skema Semi Knocked Down (SKD). Jadi, bodi kasarnya bakal dicetak di pabrik JAC di China dalam kondisi masih polos alias belum dicat. Abis itu, bodi-bodi ini bakal dikirim melintasi benua menuju Italia!
Nah, proses finishing maha penting kayak pengecatan, pemasangan interior mewah, sampai tuning sasis bakal digarap langsung sama tangan-tangan ahli di markas Maserati di Italia. Skema cerdas ini diharapin bisa ngidupin lagi geliat pabrik mereka di Cassino dan Modena, dengan target pasar awal membidik para “Sultan” di Timur Tengah, Italia, Prancis, dan Jerman.
Langkah nekat tapi terukur dari Stellantis (induk perusahaan Maserati) ini emang wajib diambil. Soalnya, rapor penjualan Maserati di tahun 2025 jeblok parah sampai di bawah 8.000 unit—terjun bebas 80% dari masa jaya mereka di 2017. Bahkan, mereka sampai nyatet kerugian operasional nyaris 198 juta euro.
Wah, kira-kira collab gila antara kemewahan Eropa dan teknologi mutakhir China ini bakal sukses balikin pamor Maserati nggak, ya? Kita tunggu aja tanggal mainnya!