Ballon d’Or bukan sekadar soal siapa mesin gol paling gacor dalam semusim, tetapi tentang siapa yang punya magis untuk membuat penonton betah menatap layar kaca. Definisi berkelas itulah yang dipegang teguh oleh Joao Felix.
Bintang Portugal yang kini merumput bersama Al Nassr tersebut blak-blakan menyuarakan dukungannya untuk Ballon d’Or 2026. Nama yang keluar dari mulutnya bukan Kylian Mbappe atau Harry Kane, melainkan sang fenomena dari Barcelona: Lamine Yamal.
Musim ini, performa Yamal memang sulit dicerna akal sehat. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, ia sudah sukses menggendong Barcelona menjuarai LaLiga dengan torehan 24 gol.
Lebih gilanya lagi? Ia menyempurnakan tahun ini dengan mengangkat trofi paling prestisius di jagat raya, Piala Dunia 2026, bersama Timnas Spanyol.
Berbicara kepada AS, Joao Felix punya alasan kuat mengapa ia menaruh nama Yamal di urutan teratas. Baginya, sepak bola adalah tentang hiburan dan kejeniusan.
“Saya selalu percaya bahwa Ballon d’Or harus dimenangi oleh pemain yang saat Anda tonton membuat Anda bilang, ‘Dia seorang bintang dan pantas terukir dalam sejarah sepak bola’,” ujar Felix.
“Dan kalau ada satu pemain yang membuat Anda menyalakan TV dan terpaku ke sana ketika menontonnya, itu adalah Lamine,” tegas eks pemain Atletico Madrid dan Chelsea tersebut.
Persaingan Ballon d’Or 2026 jelas bukan ujian yang mudah. Lamine Yamal harus sikut-sikutan dengan nama-nama elite seperti Mbappe, Kane, hingga sang legenda hidup, Lionel Messi.
Apalagi, Yamal punya urusan yang belum selesai. Pada edisi 2025 lalu, ia harus puas finis di posisi kedua, tepat di belakang kompatriot masa lalunya di Barca, Ousmane Dembele. Namun, Felix menilai kegagalan tahun lalu sudah dibayar lunas dengan pencapaian level dewa tahun ini.
Status jawara dunia adalah kartu As yang tidak dimiliki oleh kandidat lain.
“Benar bahwa Mbappe dan Harry Kane menjalani musim yang luar biasa, tapi Lamine adalah sepak bola itu sendiri. Apalagi dia juara Piala Dunia, dan menjuarainya selalu sangat penting kalau Anda ingin lebih dekat menuju Ballon d’Or,” tambah Felix menganalisis.
Kini, panggung tampaknya sudah siap menyambut raja baru. Jika magis di atas lapangan dan trofi Piala Dunia menjadi tolak ukur mutlak, rasanya ucapan Joao Felix bukan sekadar klaim sepihak. Ini adalah sinyal bahwa era dominasi Lamine Yamal telah resmi dimulai.