LONDON – Proyek revolusi Tottenham Hotspur di bawah komando Roberto De Zerbi kembali bikin dahi berkerut. Baru saja hancur lebur dibantai Brentford 3-0 di pekan pembuka Premier League, Spurs langsung merespons dengan sebuah perjudian transfer bernilai fantastis.
Senin lalu, manajemen Tottenham resmi menuntaskan mega transfer winger asal Brasil dari Manchester City, Savinho—yang setibanya di London Utara langsung meminta dipanggil dengan nama lamanya: Savio.
Keputusan Savio mengganti nama seolah menjadi simbol kuat. Ia ingin mengubur dalam-dalam mimpi buruknya selama dua musim tampil melempem di Etihad Stadium.
Pertanyaannya: Mengapa Tottenham rela membakar uang sebesar £85 juta (£75 juta dana awal plus bonus) untuk pemain yang minim kontribusi?
Rekor Penjualan City untuk Statistik yang Bikin Prihatin
Transfer ini menjadi rezeki nomplok bagi Manchester City. Angka £85 juta tersebut resmi memecahkan rekor penjualan tertinggi The Citizens, menggeser rekor transfer Julian Alvarez (£81,5 juta) ke Atletico Madrid pada 2024 lalu.
Padahal, jika membedah statistik, Savio jauh dari kata gacor. Dua musim berseragam City, ia cuma sanggup menyumbang 2 gol di ajang Premier League.
Secara total, ia tampil 84 kali di semua kompetisi dengan catatan 7 gol dan 16 assist. Ironisnya, saat City mengawinkan gelar FA Cup dan Carabao Cup musim lalu, Savio cuma jadi ‘camat’ alias cadangan mati tanpa menit bermain di Wembley.
Posisi Savio di Manchester makin suram usai kedatangan Antoine Semenyo pada bursa transfer Januari lalu. Striker asal Ghana itu langsung nyetel dan mematikan peluang Savio di tim utama, yang berujung pada dicoretnya sang pemain dari skuad Brasil untuk Piala Dunia 2026.
Situasi ruang ganti juga sudah tak harmonis. Manajer baru City, Enzo Maresca, secara blak-blakan menyebut bahwa Savio sudah ngotot minta dijual sejak hari pertama dirinya menukangi tim.
Ekspektasi Taktik De Zerbi dan Datangnya ‘Kuli’ Baru City
Di balik angka statistiknya yang memprihatinkan, pemandu bakat Tottenham tampaknya lebih percaya pada eye test (pengamatan langsung). Savio adalah tipe pendribel bola impulsif yang sangat licin saat duel satu lawan satu.
Kemampuannya bermain di kedua sayap dan menggunakan kedua kaki menjadikannya aset berharga jika berada di tangan yang tepat. Roberto De Zerbi sangat yakin, sistem permainannya yang ultra-ofensif bakal menjadi panggung sempurna untuk menyulap Savio kembali tajam, layaknya saat ia meledak bersama Girona di LaLiga musim 2023/24 lalu.
Sementara Spurs sibuk berharap pada potensi Savio, City sudah bergerak mengamankan suksesornya. The Citizens dikabarkan segera merampungkan transfer winger 22 tahun asal Palmeiras, Allan Elias, dengan mahar sekitar €40 juta.
Berbeda dengan mayoritas penyerang Brasil yang hobi pamer skill, Allan justru dikenal karena etos kerjanya. Meski baru debut senior di usia 21 tahun, Allan menawarkan tenaga ekstra sebagai ‘kuli’ di lini depan.
Gaya mainnya yang spartan dan ngotot saat tim kehilangan bola adalah kepingan taktik yang dinilai hilang dari skuad City di pengujung era Pep Guardiola.
Kini, waktu yang akan menjawab. Apakah Savio akan kembali gacor dan membungkam kritik, atau perjudian mahal De Zerbi ini bakal bikin Spurs makin terjerembap ke papan bawah?


