Poin Utama:
- Pep Guardiola akan memimpin laga terakhirnya bersama Manchester City pada laga penutup Liga Inggris melawan Aston Villa.
- Selama 10 tahun menjabat, Guardiola dinilai telah mengubah wajah dan mentalitas sepak bola Inggris melalui pendekatan taktisnya yang revolusioner.
- Rumor yang mengaitkan kepergiannya dengan 115 dakwaan pelanggaran finansial City dipastikan hanya sebatas spekulasi liar di media sosial.
- Alasan utama mundurnya pelatih asal Katalan ini adalah faktor kelelahan, dinamika kehidupan personal, dan selesainya proyek transisi skuad di Etihad.
- Mantan manajer Chelsea, Enzo Maresca, difavoritkan menjadi suksesor, sementara Guardiola diprediksi akan melatih tim nasional setelah mengambil masa jeda.
Bagi seorang pria yang telah menetap begitu lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap olahraga Inggris, Pep Guardiola selalu memiliki aura layaknya seseorang yang sedang singgah. Namun, persinggahan itu ternyata memakan waktu hingga satu dekade dan sukses mengubah sejarah Manchester City selamanya.
Pada konferensi pers pertamanya di bulan Juli 2016, Guardiola yang saat itu tampil necis dengan setelan jas abu-abu pernah berkata, “Datang ke negara pencipta sepak bola dan merasa Anda harus mengubah sesuatu adalah tindakan yang sedikit lancang. Saya tidak cukup hebat untuk mengubah segalanya.”
Kenyataannya, ia melakukan hal itu. Manchester City dan sepak bola Inggris tidak akan pernah sama lagi setelah Guardiola. Jejak taktis dan warisannya akan terus melekat jauh setelah ia meninggalkan dugout Etihad Stadium untuk terakhir kalinya, usai laga penutup Liga Inggris melawan Aston Villa pada hari Minggu mendatang.

Evolusi Taktik dan Revolusi Skuad
Bahkan di musim ini—ketika Liga Inggris tampil lebih fisik, didominasi skema bola mati, dan berorientasi pada transisi—pelatih asal Katalan berusia 55 tahun itu tetap menjadi pusat gravitasi. Gaya bermain “Pepball” telah memaksa tim-tim lain untuk beradaptasi atau tertinggal.
Belakangan, Guardiola tampak lebih santai. Setelan jasnya telah lama digantikan oleh hoodie kasual. Ia kerap tertawa di konferensi pers dan lebih menikmati proses adaptasi bersama skuad mudanya. “Permainan musim ini telah berubah dalam banyak hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam karier saya. Namun di sisi lain, ini sangat menyenangkan dan lebih menghibur,” ungkapnya.
Mengapa Pergi Sekarang?
Kepergian Guardiola memunculkan pertanyaan: mengapa sekarang? Terutama ketika ia masih berpeluang menambah koleksi trofi domestiknya musim ini.
Satu hal yang pasti, rumor bahwa ia pergi karena kasus 115 dakwaan pelanggaran finansial Liga Inggris adalah murni fantasi media sosial. Guardiola selalu membela klubnya dengan lantang. Obsesinya pada detail teknis sehari-hari tidak pernah sejalan dengan jadwal proses hukum yang berjalan lambat bak gletser.

Alasan sebenarnya jauh lebih fundamental. Guardiola awalnya tidak pernah merencanakan untuk bertahan selama ini. Perpanjangan demi perpanjangan kontrak ia tandatangani karena motivasi untuk membangun ulang skuad atau membalas kekalahan menyakitkan di panggung Eropa.
Kini, ia merasa tugas transisi tersebut telah usai. Dengan bantuan Hugo Viana dan sahabat lamanya, Txiki Begiristain—yang juga bersiap mundur—City kini memiliki skuad baru yang siap memulai siklus segar. Mantan bos Chelsea yang juga eks asisten Guardiola pada musim treble 2022/2023, Enzo Maresca, santer dikabarkan bakal menjadi penerus tongkat estafet.
Dinamika Personal dan Masa Depan di Tim Nasional
Satu dekade adalah waktu yang sangat lama dalam sepak bola, dan banyak hal telah berubah di dalam maupun di luar lapangan. Tidak ada lagi pemain dari skuad perdananya pada musim 2016/2017 yang tersisa. Rival-rival terberatnya, seperti Jurgen Klopp, juga telah lebih dulu undur diri.

Di ranah personal, ketiga anaknya yang dulu datang ke Manchester kini telah tumbuh dewasa dan hidup mandiri. Pada Desember 2025 lalu, kehidupan pribadinya juga mengalami perubahan besar saat ia berpisah dengan istrinya, Cristina, setelah 30 tahun bersama.
“Saya rasa dia sangat lelah setelah 10 tahun. Keluarganya jauh; dia berada di tempat yang sama selama 10 tahun dan telah mencapai kesuksesan paripurna. Dia tidak perlu membuktikan apa-apa lagi,” ujar salah satu kerabat dekat Guardiola kepada The Sporting News.
Sang pelatih kini disebut hanya ingin mengambil jeda, bermain golf, pergi ke pantai, dan menikmati hidup. Namun, tentu saja, seorang Pep Guardiola tidak akan benar-benar meninggalkan dunia sepak bola selamanya. Setelah masa rehat, panggung kompetisi antarnegara bersama tim nasional diyakini sudah menanti sentuhan jeniusnya.


