Ringkasan Cepat:
- Dewan FIFA menggelar rapat tertutup di Zurich untuk mengevaluasi kelayakan dan masa depan penghargaan FIFA Peace Prize.
- Penghargaan yang diberikan kepada Donald Trump pada Desember 2025 tersebut memicu kontroversi karena diputuskan sepihak oleh Gianni Infantino tanpa persetujuan Dewan.
- Komite Tanggung Jawab Sosial Sepak Bola yang melibatkan Javier Zanetti tengah menyusun rekomendasi final untuk diputuskan di Doha pada 16 Desember 2026.
ZURICH – Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tengah mengevaluasi masa depan penghargaan kontroversial FIFA Peace Prize yang diberikan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Evaluasi mendalam ini dibahas secara langsung dalam rapat tertutup Dewan FIFA di Zurich, Swiss, pada Kamis (15/10/2026). Langkah strategis ini secara terbuka membuka opsi pembatasan kriteria penerima hingga pencabutan penghargaan secara penuh.
Kontroversi Pemberian Sepihak oleh Infantino
Penghargaan perdamaian ini memicu polemik global sejak diserahkan oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, pada Desember 2025 lalu. Infantino memberikan medali, sertifikat, dan trofi emas tersebut kepada Trump dengan alasan sang presiden berperan penting menyelesaikan konflik global. Namun, keputusan tersebut menuai kecaman tajam karena dieksekusi tanpa persetujuan dari dewan pengambil keputusan resmi FIFA.

Kritik terhadap transparansi dan netralitas politik organisasi semakin menguat seiring eskalasi geopolitik di dunia nyata. Beberapa bulan setelah Trump menerima penghargaan perdamaian tersebut, pemerintahannya justru melancarkan serangan udara ke Iran yang memperburuk konflik bersenjata. Situasi paradoks ini mendorong mayoritas anggota Dewan FIFA untuk menuntut perombakan regulasi penghargaan.
Keterlibatan Komite Sosial dan Javier Zanetti
Merespons krisis ini, FIFA menugaskan Komite Tanggung Jawab Sosial Sepak Bola untuk meninjau kelayakan Peace Prize. Wakil Presiden FIFA sekaligus Ketua FA, Debbie Hewitt, menegaskan komite akan mengkaji urgensi penghargaan serta prosedur pemilihan penerimanya di masa depan. “Semua pertanyaan terkait apakah penghargaan serupa perlu diberikan lagi akan dijawab melalui komite sosial,” jelas Hewitt kepada awak media.
Komite yang beranggotakan 22 orang ini turut melibatkan legenda Inter Milan dan Timnas Argentina, Javier Zanetti, selaku wakil ketua. Komite tersebut sedang mempertimbangkan beberapa rekomendasi krusial untuk menjaga muruah sepak bola global. Opsi utama yang sedang digodok meliputi larangan pemberian penghargaan bagi tokoh politikus aktif, hingga penghapusan penghargaan secara permanen.
Sidang Penentuan di Doha dan Nasib Infantino
Meski evaluasi telah berjalan, rapat Dewan FIFA di Zurich belum membuahkan ketetapan final terkait status penghargaan Donald Trump. Seluruh rekomendasi dari komite sosial dijadwalkan akan dibahas dan diputuskan secara mutlak dalam rapat Dewan FIFA berikutnya. Sidang penentuan tersebut akan diselenggarakan di Doha, Qatar, pada 16 Desember 2026.

Polemik Peace Prize ini diprediksi akan membawa dampak politis yang signifikan bagi internal federasi. Ketidakhadiran Infantino dalam rapat evaluasi di Zurich, ditambah rentetan penolakan dari dewan, menjadi batu sandungan baru. Rentetan kontroversi ini dapat mengancam posisi Infantino yang tengah bersiap maju kembali dalam pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027 mendatang.