ONESPORTS.ID – Kegembiraan Timnas Inggris yang tinggal selangkah lagi menuju final Piala Dunia pertama mereka sejak 1966 harus hancur berkeping-keping. Kekalahan dramatis 2-1 dari sang juara bertahan, Argentina, membuat para pendukung The Three Lions murka dan menuding sang manajer, Thomas Tuchel, sebagai biang keladi utama.
Meski sempat memimpin 1-0 hingga menit ke-84, Inggris harus menelan pil pahit usai kebobolan dua gol di menit-menit akhir lewat sepasang assist dari Lionel Messi, yang salah satunya diselesaikan oleh Enzo Fernandez. Kekalahan ini memaksa Inggris harus puas hanya bertarung di laga perebutan tempat ketiga.
Inggris datang ke turnamen ini dengan target mutlak “juara atau gagal”. Kekalahan dari salah satu tim terbaik dunia ini terasa jauh lebih menyakitkan karena taktik dan keputusan manajerial dianggap sebagai penyebab utama kegagalan tersebut, memicu desakan luas agar Tuchel segera dipecat.
Taktik Pasif dan Rapor Merah Sepanjang Turnamen
Banyak pihak menilai penampilan Inggris di Piala Dunia 2026 sejatinya jauh dari kata meyakinkan. Setelah menang 4-2 atas Kroasia, mereka ditahan imbang tanpa gol oleh Ghana, dan butuh waktu hingga menit ke-60 untuk membobol gawang Panama dalam kemenangan 2-0.
Di fase gugur, performa skuad asuhan Tuchel juga membuat fans senam jantung. Mereka sempat tertinggal dari tim debutan Republik Demokratik Kongo hingga menit ke-70, serta tertinggal lebih dulu dari Norwegia di perempat final sebelum akhirnya diselamatkan oleh dua gol Jude Bellingham.
Puncaknya terjadi di laga melawan Argentina. Tuchel dinilai menerapkan taktik “pengecut” karena terlalu cepat puas dengan keunggulan satu gol. Ia baru melakukan pergantian pemain defensif di menit ke-72. Parahnya lagi, setelah kebobolan gol penyeimbang dari Enzo Fernandez, Tuchel merespons dengan mengubah formasi menjadi lima bek sejajar di belakang—sebuah langkah yang diejek habis-habisan oleh fans karena dianggap terlambat dan justru merusak keseimbangan tim.
Pembelaan Tuchel dan Keputusan FA
Menanggapi hujan kritik tersebut, Thomas Tuchel memberikan pembelaannya. Kepada jurnalis, manajer asal Jerman itu membantah bahwa timnya mengalami masalah struktural.
“Kami menjadi terlalu pasif setelah mencetak gol dan memberikan banyak peluang. Kami tidak bisa membalikkan penguasaan bola dan kebobolan begitu banyak umpan silang dan tembakan,” kilah Tuchel. Terkait pergantian lima bek, ia berdalih hal itu terpaksa dilakukan karena celah di lini pertahanan sudah terlalu terbuka lebar.
Meski desakan pemecatan mengalir deras, masa depan Tuchel tampaknya masih aman. Menurut laporan Mike Keegan, jurnalis olahraga senior dari Daily Mail Sports, Tuchel tidak akan pergi ke mana-mana dalam waktu dekat. Federasi Sepak Bola Inggris (FA) dilaporkan masih memberikan dukungan penuh kepadanya dan ia akan tetap dipertahankan hingga Euro 2028 mendatang.
Sebagai catatan, sejak mengambil alih kursi kepelatihan Inggris pada Desember 2024, Tuchel sebenarnya memiliki rekor yang cukup solid dengan torehan 16 kemenangan, 2 seri, dan 3 kekalahan.
Kutipan
“Kami menjadi terlalu pasif setelah mencetak gol dan memberikan banyak peluang. Kami tidak bisa membalikkan penguasaan bola dan kebobolan begitu banyak umpan silang dan tembakan. Kami tidak bisa mempertahankan level permainan.” — Thomas Tuchel, Manajer Timnas Inggris.


