Jon Bernthal Kembali Gila di The Punisher: One Last Kill, Aksi Brutal yang Tersandera Durasi Tipis

Ulasan lengkap The Punisher: One Last Kill di Disney+. Aksi Jon Bernthal memukau, namun format Special Presentation Marvel dinilai membatasi potensi cerita.

- Advertisement -

Poin Utama:

  • Jon Bernthal kembali memerankan Frank Castle dalam Marvel Special Presentation terbaru berjudul The Punisher: One Last Kill di Disney+.
  • Proyek berdurasi 40 menit ini menjadi jembatan cerita antara Daredevil: Born Again dan kemunculan perdananya di Spider-Man: Brand New Day.
  • Aksi pertarungan jarak dekat khas Punisher tereksekusi dengan sangat brutal dan memanjakan mata penonton.
  • Sayangnya, format durasi pendek membuat eksplorasi karakter dan pembangunan plot terasa tipis dan terburu-buru.
  • Di balik kekurangannya, performa emosional Bernthal dinilai sebagai salah satu penampilan terbaiknya di MCU sejauh ini.

Setelah comeback yang sukses menghancurkan internet di Daredevil: Born Again musim kedua, serta pengumuman resmi bahwa ia akan melakoni debut layar lebar di Spider-Man: Brand New Day, jagat maya kembali dibuat gempar. Kini, Marvel Studios akhirnya memberikan panggung tunggal untuk menjembatani dua momentum raksasa tersebut melalui rilisnya The Punisher: One Last Kill di Disney+.

Banyak fans yang awalnya mengira proyek ini akan menjadi sebuah arena pembantaian besar-besaran untuk memperluas kanon sang anti-hero. Namun, alih-alih mengekspansi semestanya, rilis berformat Special Presentation ini justru memilih untuk menelanjangi Frank Castle secara brutal. Mereka ingin membedah isi kepalanya dan mencari tahu: seberapa jauh seorang pria yang hancur bersedia menarik pelatuknya?

- Advertisement -
4 2

Masuk ke Dalam Pikiran Gelap Sang Punisher

Penonton akan diperlihatkan sosok Frank Castle (Jon Bernthal) dalam kondisi emosional yang paling telanjang dan meresahkan. Semua sisa-sisa sisi manusiawi yang mungkin pernah terlihat di masa lalunya kini telah terkikis habis.

Di sinilah One Last Kill bersinar paling terang. Penampilan Bernthal sebagai The Punisher telah lama berstatus legendaris, namun di proyek ini, ia meningkatkan standarnya. Deru amarahnya, rasa sakit yang tertahan lalu meledak menjadi kebrutalan fisik—semuanya tergambar sempurna. Ini adalah seorang pria yang minim kecerdasan emosional; apa pun yang ia rasakan, ia terjemahkan langsung melalui moncong senjatanya.

- Advertisement -

Di satu sisi, visual dan monolog berhasil menegaskan cinta butanya pada sang putri (sambil secara aneh mengabaikan eksistensi putranya). Namun, di sisi lain, naskah terasa kurang halus. Penggunaan kilas balik dan bisikan gaib terasa terlalu dipaksakan untuk menegaskan trauma yang sebenarnya sudah sangat jelas sejak kemunculan perdananya di Daredevil.

2 2

Dunia Pembunuh yang Nihil Taruhan

Bicara soal aksi, sutradara Reinaldo Marcus Green benar-benar memanjakan mata. Koreografi pertarungan jarak dekat (atau lebih tepatnya: kapak-menembus-kepala) terekam dengan kualitas sinematik kelas atas.

Namun, ada satu masalah fatal. Drama di balik rentetan pembantaian ini terasa kosong. Menyaksikan The Punisher meratakan puluhan preman terasa seperti sedang menonton cutscene dari penyelesaian misi sampingan di video game. Ketiadaan tujuan akhir yang pasti—tidak ada pembunuhan kunci yang akan mengakhiri kekacauan ini—membuat nyawa yang melayang terasa nihil dampak.

Dunia di sekitar Frank dalam tayangan ini sangat menjijikkan, dipenuhi oleh para psikopat dan korban yang tak berdaya. Ironisnya, Frank sama sekali tidak bersinar sebagai sosok pelindung di tengah kegelapan tersebut. Ia hanyalah salah satu pembunuh paling efektif di antara deretan pembunuh lainnya.

3 2

Tercekik Keterbatasan Format Special Presentation

Pertanyaan terbesarnya adalah: mengapa proyek yang berpotensi menjadi mahakarya action-thriller ini terasa hampa di penghujung cerita? Jawabannya mungkin ada pada keterbatasan mediumnya sendiri.

- Advertisement -

Format Marvel Special Presentation yang berdurasi 40 menit terbukti tidak cocok untuk membedah karakter sekompleks The Punisher. Ia tidak memiliki ruang yang cukup layaknya serial televisi, namun juga tak sepadat film pendek ikonik Dirty Laundry yang rilis bertahun-tahun lalu. Proyek ini berakhir terasa seperti sebuah potongan adegan acak dari naskah film panjang yang dihilangkan paruh awalnya.

The Punisher: One Last Kill memang berhasil memosisikan ulang Frank Castle di MCU dan memberi Jon Bernthal ruang emas untuk memamerkan kegilaan aktingnya. Jika ini dirancang murni sebagai aksi beat-em-up 40 menit tanpa basa-basi, ini akan jadi karya masterpiece. Sayangnya, proyek ini mencoba memasukkan terlalu banyak beban moral ke dalam piring yang terlalu kecil, sembari melemparkan banyak orang dari atas gedung.

Rating: 3/5 Bintang

Mingguan

Berita Terkait

Hasil MU vs Bournemouth 0-3: Blunder Fatal & Puasa Kemen...

Hasil MU vs Bournemouth berakhir 0-3 di Old Trafford pada pekan ke-8 Liga Inggris 2026/2027. Blunder Leny Yoro dan Senne Lammens perpanjang krisis Michael Carrick.

Peringatan Keras Oliver Kahn: Julian Nagelsmann Ambil Risiko...

Legenda Jerman Oliver Kahn memperingatkan Julian Nagelsmann tentang besarnya risiko menukangi Manchester United di tengah krisis performa era Michael Carrick.

Bruno Fernandes Sentil Manchester United: Berhenti Hidup di ...

Kapten MU Bruno Fernandes mendesak klub agar sadar diri dan berhenti bernostalgia dengan kejayaan masa lalu usai rentetan hasil buruk di Liga Champions dan domestik.

Jadwal Lengkap Liga Champions 2026/27: Format Fase Liga &...

Panduan komprehensif jadwal UEFA Champions League 2026/2027. Simak aturan fase liga 36 tim, tanggal pertandingan krusial, hingga rute menuju final di Metropolitano.

Cedera ACL Khvicha Kvaratskhelia: Bintang PSG Tumbang, Crist...

Winger andalan PSG, Khvicha Kvaratskhelia, divonis mengalami cedera ACL usai laga kontra Barcelona. Simak pesan dukungan emosional dari Cristiano Ronaldo di sini.

Rekor Kartu Topps NOW Lionel Messi: Edisi Perpisahan Argenti...

Kartu Topps NOW edisi perpisahan Lionel Messi bersama Timnas Argentina memecahkan rekor penjualan tertinggi dengan 664.325 keping, melampaui rekor Shohei Ohtani.

Trending

Prediksi Atletico vs MU: Superkomputer Opta Jagoka...

Prediksi laga Liga Champions Atletico vs MU berdasarkan simulasi superkomputer Opta. Tuan rumah lebih diunggulkan dengan probabilitas kemenangan 46 persen.

Hasil PSIM vs Persija 0-4: Pesta 4 Gol Antar Macan...

Hasil PSIM vs Persija berakhir 0-4 untuk kemenangan Macan Kemayoran. Simak brace Stjepan Loncar yang bawa Persija rebut puncak klasemen Super League di sini!

Jelang LoL Worlds 2026 NA: Rekor Win Rate Hans Sam...

Para pro player mulai berlatih di Solo Queue jelang LoL Worlds 2026 Amerika Utara. Hans Sama catat 100% win rate, namun akun Faker dan Chovy masih jadi misteri.

Trafik Anjlok Dilibas Google AI Overviews, Publish...

Kehadiran Google AI Overviews memangkas trafik organik media. Publisher dituntut beralih dari sekadar SEO menuju jurnalisme premium berlisensi.