Poin Utama:
- Menjelang tahun 1976, Sylvester Stallone hanyalah aktor figuran yang hampir terjebak stereotip akibat peran-peran B-movie, termasuk film soft-porn.
- Naskah Rocky ditulis hanya dalam waktu tiga hari, terinspirasi dari perjuangan nyata petinju Chuck Wepner melawan Muhammad Ali.
- Stallone menolak bayaran besar dari studio demi mempertahankan posisinya sebagai pemeran utama, padahal saat itu saldo banknya hanya tersisa $106.
- Rocky mematahkan dominasi film nihilistik pada masanya, menjadi film terlaris 1976 dengan meraup pendapatan global $225 juta.
- Film ini secara mengejutkan memenangi penghargaan Best Picture dan Best Director di Oscar 1976, mengalahkan kandidat kuat seperti Network dan All the President’s Men.
Ada masa di mana Hollywood tidak mengenal nama Sylvester Stallone. Jauh sebelum ledakan peluru Rambo atau auman kemenangan Rocky Balboa bergema di seluruh dunia, ia hanyalah seorang aktor pinggiran yang berjuang bertahan hidup.
Mundur ke pertengahan dekade 70-an, rekam jejak Stallone nyaris tidak memiliki masa depan yang gemilang. Profilnya didominasi oleh tujuh tahun peran figuran rendahan. Ia bahkan sempat terjerumus dalam sebuah film soft-porn berjudul The Party at Kitty and Stud’s (yang kelak dirilis ulang menjadi The Italian Stallion demi meraup untung dari ketenarannya). Puncak kegilaan kariernya saat itu hanyalah menjadi penjahat sadis pencinta senapan mesin di film cult-classic kelas B, Death Race 2000.
Namun, nasib seorang pria yang terdesak ke sudut ring terkadang mampu melahirkan pukulan balasan yang paling mematikan. Dan bagi Stallone, pukulan itu bernama Rocky.

Naskah Tiga Hari dan Pertaruhan $106
Berbekal respons positif atas keterlibatannya dalam naskah The Lords of Flatbush (1974), Stallone mengurung diri pada Maret 1975. Inspirasinya datang bagai kilat setelah menyaksikan pertarungan heroik petinju underdog Chuck Wepner yang berhasil bertahan nyaris 15 ronde—dan bahkan sempat menjatuhkan sang legenda, Muhammad Ali.
Hanya dalam waktu 72 jam, sebuah naskah kasar lahir. Kisah tentang Rocky Balboa, petinju kidal tak dikenal dari jalanan Philadelphia yang mendapat keajaiban menantang juara dunia Apollo Creed.
Naskah itu adalah emas murni, dan petinggi United Artists langsung menyadarinya. Namun, mereka menolak mentah-mentah tuntutan Stallone untuk memerankan karakter utamanya. Uang dalam jumlah besar disodorkan agar ia mundur dan menyerahkan peran itu kepada aktor papan atas. Ironisnya, saat itu saldo bank Stallone hanya tersisa $106. Namun, ia bergeming. Ia memilih bertaruh nyawa. “Jika saya menjualnya dan film itu sukses tanpaku, saya akan melompat dari gedung,” kenangnya. Kegigihan itu berbuah manis saat pihak studio akhirnya menyerah.
Intimidasi dan Tragedi Dasi di Malam Oscar
Rocky diproduksi hanya dalam 24 hari dengan bujet super ketat. Namun, inovasi pergerakan Steadicam karya Garrett Brown dan balutan musik klasik romantis racikan Bill Conti mengubah film murahan itu menjadi mahakarya visual. Hasilnya? Rocky memukul KO box office dunia dengan pendapatan mencapai $225 juta dan mengamankan 10 nominasi Oscar pada 1976.
Malam Oscar itu menjadi pusaran emosi yang tak masuk akal bagi sang aktor yang baru genap berusia 30 tahun. Ia masih ingat betul bagaimana Paddy Chayefsky, penulis naskah film saingannya, Network, dengan angkuh mendatanginya.
“‘Kamu masih baru di kota ini,’ katanya. ‘Pertama, naskahmu tidak akan menang karena aku presiden The Writers Guild, dan milikku yang akan menang… Kamu juga tidak akan memenangi Best Picture, karena Network yang akan menang,'” cerita Stallone menirukan arogansi Chayefsky. “Saya belum pernah dihantam dengan kekuatan sebrutal itu.”

Ketegangan malam itu makin gila akibat sebuah insiden konyol. Saat berada di dalam mobil menuju karpet merah, dasi dari setelan tuksedo sewaan Stallone tiba-tiba putus. Sopir mobil sempat menawarkan dasi kupu-kupunya, namun sang aktor menolak. Alhasil, ia membiarkan kerah kemejanya terbuka lebar bergaya Tony Manero. Kritikus mode, Mr. Blackwell, murka dan mengecam Stallone sebagai “pemberontak gaya”, padahal realitanya ia hanyalah pria kere yang dasinya baru saja putus.
Best Picture dan Kemenangan Para Pecundang
Di dalam teater, ketegangan mencekik leher Stallone. Ia harus menyaksikan rekan-rekannya—Burgess Meredith, Bill Conti, hingga Talia Shire—tumbang satu per satu di kategorinya masing-masing. Rocky memang pada akhirnya kehilangan piala Best Actor dan Best Screenplay. Stallone mulai pasrah, meyakini bahwa Oscar tahun itu memang dikunci untuk film-film berbau politik dan intelektual tingkat tinggi.
Namun, gemuruh di teater berubah drastis saat John G. Avildsen memenangi Best Director. Dan ketika aktor kawakan Jack Nicholson naik ke atas panggung untuk membaca amplop sakti Best Picture, sejarah baru pun tercipta.
“Ketika kami menang, saya sangat terkejut, saya hanya bisa berkata, ‘Ya Tuhan.’ Jika saya tidak berpegangan pada kursi, saya mungkin akan melakukan back flip saat itu juga,” kenang Stallone.
Di atas panggung itu, berdampingan dengan produsernya, sosok petinju gempal dari jalanan Philadelphia tersebut membuktikan bahwa kisah tentang kemanusiaan, cinta, dan keberanian bangkit melawan rasa takut akan selalu berhasil merobohkan hegemoni para elitis di Hollywood. Malam itu, bukan hanya Rocky yang menang, tetapi semua underdog di seluruh dunia.


