Seluruh mata publik Afrika kini hanya tertuju pada satu nama di lapangan tanah liat Paris. Petenis asal Mesir, Mayar Sherif, dijadwalkan melakoni laga pembukanya melawan wakil Hongaria, Dalma Galfi, pada Selasa ini.
Pencapaian Sherif menembus undian utama (main draw) setelah berjuang lewat babak kualifikasi membawa fakta yang mengejutkan. Ia resmi menjadi satu-satunya perwakilan dari seluruh Benua Afrika—baik putra maupun putri—yang berlaga di nomor tunggal pada edisi Roland-Garros 2026.
Situasi langka ini diperparah oleh absennya bintang tenis Tunisia, Ons Jabeur, yang selama ini menjadi lokomotif tenis Afrika. Jabeur tengah mengambil jeda dari sirkuit profesional untuk melahirkan anak pertamanya. Namun, di balik absennya Jabeur, muncul pertanyaan krusial: mengapa Afrika, benua yang seakan tak pernah kehabisan talenta atletik, sangat kesulitan mencetak petenis elite secara konsisten?
Rapor Merah dari Tahun Sebelumnya
Bagi para pengamat tenis, alarm krisis ini sebenarnya sudah berbunyi sejak lama. Edisi Roland-Garros 2025 telah menjadi peringatan keras ketika kampanye wakil Afrika berakhir tragis. Tanpa kehadiran Jabeur untuk menutupi celah kelemahan tahun ini, realitas bahwa struktur tenis Afrika sedang bermasalah makin tak terbantahkan.
Berikut adalah rekapitulasi hasil mengecewakan wakil Afrika di Roland-Garros 2025 lalu:
| Nama Pemain | Asal Negara | Hasil Roland-Garros 2025 |
| Ons Jabeur | Tunisia | Gugur di Babak Pertama (Tunggal) |
| Lloyd Harris | Afrika Selatan | Gugur di Babak Pertama (Tunggal) |
| Mayar Sherif | Mesir | Gugur di Babak Pertama (Ganda) |
| Kgothatso Montjane | Afrika Selatan | Semifinalis (Tenis Kursi Roda) |
Dominasi Sepak Bola dan Biaya Selangit
Faktor utama yang menghambat perkembangan tenis di Afrika tidak lain adalah masalah ekonomi. Tenis profesional diakui sebagai salah satu olahraga termahal di dunia. Biaya peralatan, pelatih teknis, hingga tiket penerbangan dan akomodasi untuk mengikuti turnamen keliling dunia sering kali di luar jangkauan finansial keluarga atlet.
Wakil Presiden Federasi Tenis Kongo (Fecoten), Hugues-Henry Ngouélondélé, secara lugas membedah kebuntuan ini.
“Tenis adalah olahraga mahal. Pemain yang mengincar level profesional harus bisa menutupi biaya peralatan, perjalanan, akomodasi, dan nutrisi yang memadai. Federasi kami kekurangan sumber daya keuangan, sehingga dukungan sponsor sangatlah penting,” tegasnya kepada Sport News Africa.
Tanpa sokongan dana, tenis akan terus tenggelam di bawah bayang-bayang sepak bola yang mendominasi subsidi negara dan antusiasme masyarakat. Selain itu, ketimpangan geografis juga menjadi kendala. Fasilitas dan budaya tenis yang memadai mayoritas hanya terpusat di wilayah Afrika Utara (seperti Maroko, Tunisia, Mesir) dan Afrika Selatan. Sementara di kawasan Afrika Tengah dan Barat, olahraga ini masih sangat eksklusif dan minim peminat.
Strategi Memecah Kebuntuan
Untuk membalikkan keadaan agar tidak hanya bergantung pada keajaiban individu semata, otoritas olahraga Afrika tengah merumuskan tiga fokus utama:
- Membawa Sirkuit Internasional ke Afrika: Federasi kini berupaya menggelar turnamen ITF Junior, Future (M25), hingga ATP Challenger di tanah Afrika untuk memangkas biaya perjalanan yang astronomis. Ini memberi kesempatan pemain lokal meraih poin ATP/WTA di rumah sendiri.
- Transfer Ilmu Kepelatihan: Tenis modern menuntut pemahaman teknis tingkat tinggi. Kemitraan seperti yang dijalin dengan Federasi Tenis Prancis (FFT) mulai digencarkan untuk melatih para pelatih lokal yang selama ini terputus dari perkembangan tenis global.
- Optimalisasi Infrastruktur: Fasilitas olahraga modern yang dibangun pasca-ajang kejuaraan regional kini dibuka lebih luas untuk pembinaan usia muda, demi menciptakan sirkuit nasional yang kompetitif.
Tampil sendiriannya Mayar Sherif di Paris pekan ini menjadi pengingat keras bahwa bakat alami saja tidak lagi cukup untuk bertarung di kejamnya industri tenis dunia. Diperlukan struktur pembinaan yang kuat dan investasi masif agar Afrika kembali bertaji di atas lapangan.



