Ringkasan Eksekutif:
- Kapten Manchester United, Bruno Fernandes, secara terbuka meminta klub untuk berhenti terjebak dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu setelah takluk 1-4 dari Como di Liga Champions.
- Kekalahan di Italia tersebut memperpanjang rekor buruk Setan Merah yang kini puasa kemenangan dalam tujuh pertandingan terakhir di seluruh kompetisi.
- Fernandes menyoroti realitas pahit bahwa pemain baru yang datang mengharapkan trofi kini harus menghadapi kenyataan klub yang tengah terseok-seok membangun siklus baru.
- Sejak era Sir Alex Ferguson berakhir pada musim 2012/2013, MU telah membelanjakan lebih dari 1 miliar paun dan berganti-ganti manajer, namun belum mampu kembali merajai Liga Inggris.
COMO – Alarm bahaya di tubuh Manchester United (MU) berdering semakin keras. Kekalahan telak 1-4 saat bertandang ke markas Como di Stadio Giuseppe Sinigaglia dalam lanjutan fase liga Liga Champions 2026/2027 pada Rabu (21/10/2026) malam WIB, memicu reaksi keras dari sang kapten, Bruno Fernandes.
Gelandang asal Portugal tersebut menilai klubnya saat ini masih terbuai dan terjebak dalam romantisme kejayaan masa lalu, sehingga gagal melihat realitas bahwa mereka tidak lagi berstatus sebagai raja Eropa yang ditakuti lawan.
Kritik Tajam Sang Kapten: Waktunya Menatap Masa Depan
Kekalahan dari Como terasa sangat memukul harga diri Setan Merah. Sebagai perbandingan, Como adalah tim underdog di Liga Champions yang beberapa tahun lalu masih berjuang di kompetisi kasta keempat Italia (Serie D). Transformasi Como menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan modern dibangun melalui visi dan eksekusi yang jelas, bukan sekadar mengandalkan nama besar.
Dalam sesi wawancara bersama Sky Italia pasca-pertandingan, Bruno Fernandes menumpahkan rasa frustrasinya. Ia menuntut adanya perubahan mentalitas secara menyeluruh dari hierarki klub hingga ke ruang ganti.
“Semua orang di klub harus paham bahwa kami tidak lagi seperti dulu; kami tidak sama lagi, dan kami harus menatap masa depan,” tegas Fernandes melontarkan kritik membangun.
“Kami harus membuat sesuatu yang berbeda saat ini. Klub ini sepertinya terlalu fokus mengenang kejayaan masa lampau, tapi kenyataannya kami tidak seperti itu lagi,” sambungnya.
Catatan Keterpurukan Manchester United Musim 2026/2027
Pernyataan keras Fernandes bukanlah tanpa dasar. Performa Manchester United di awal musim ini berada pada level yang sangat mengkhawatirkan. Kekalahan di Como merupakan kekalahan kedua dari tiga laga yang telah dijalani MU di pentas Liga Champions musim ini.
Untuk melihat gambaran utuh krisis yang tengah melanda kubu Old Trafford, berikut adalah rincian statistik tren negatif MU hingga pekan ketiga Oktober 2026:
| Kompetisi / Ajang | Catatan Performa Terbaru | Status / Dampak Peringkat |
| Liga Champions (UCL) | Kalah 1-4 vs Como | Menelan 2 kekalahan dari 3 pertandingan perdana fase liga. |
| Liga Inggris (Premier League) | Hanya meraih 1 kemenangan | Terpuruk di posisi ke-13 klasemen sementara. |
| Carabao Cup | Tersingkir (Out) | Kehilangan salah satu potensi trofi domestik di awal musim. |
| Seluruh Kompetisi (Overall) | Puasa Kemenangan | Tidak pernah menang dalam 7 pertandingan terakhir secara beruntun. |
Beban Berat Bayang-Bayang Era Sir Alex Ferguson
Lebih lanjut, Fernandes menyoroti bagaimana ekspektasi besar yang melekat pada nama besar Manchester United justru menjadi bumerang bagi para rekrutan anyar. Banyak pemain bintang yang merapat ke Old Trafford dengan harapan besar untuk mengangkat piala dan bermain di level tertinggi, namun realitas di lapangan berkata lain.
“Klub dan pemain harus bisa mengatasi ini. Sayangnya, para pemain yang datang ke sini berharap mendapat trofi, kemenangan, dan mencapai level tertinggi, tapi faktanya klub malah kesusahan dalam beberapa tahun terakhir. Situasinya memang begitu,” sesal mantan pemain Sporting CP tersebut, yang ironisnya juga sempat mendapat sorotan tajam dan kecaman dari pandit sepak bola Jamie Carragher terkait performa individunya.
Manchester United memang belum pernah lagi merengkuh mahkota juara Liga Inggris sejak terakhir kali dimenangi pada musim 2012/2013, musim terakhir pengabdian manajer legendaris Sir Alex Ferguson yang total mempersembahkan 38 trofi. Sejak saat itu, manajemen MU tercatat telah menghamburkan dana belanja lebih dari 1 miliar paun (sekitar Rp20 triliun) dan berulang kali melakukan pergantian kursi manajer, namun siklus kebangkitan yang diidamkan tak kunjung tiba.
Peringatan dari Bruno Fernandes ini menjadi sinyal mendesak bahwa Manchester United harus segera melakukan perombakan fundamental, jika tak ingin semakin tertinggal dari para rival elit Eropa lainnya yang terus berevolusi.