Akhir Sebuah Mahakarya: Mengenang 10 Laga Bersejarah yang Mendefinisikan 1 Dekade “Masterclass” Pep Guardiola di Manchester City

Dari perombakan taktik ekstrem hingga warisan para pahlawan baru, inilah napak tilas perjalanan sang jenius asal Catalunya sebelum mengucapkan selamat tinggal pada sepak bola Inggris.

- Advertisement -

Pep Guardiola baru saja mengukir satu rekor terakhir sebelum melangkah pergi dari Etihad Stadium sebagai manajer Manchester City untuk terakhir kalinya pada Minggu (24/5/2026) lalu.

Sang jenius asal Catalunya itu memimpin City untuk pertandingan ke-593 dalam kekalahan 2-1 dari Aston Villa di bawah terik matahari, melampaui rekor Les McDowell (1950–1963) dalam daftar manajer dengan laga terbanyak sepanjang masa klub.

Namun, jadwal sepak bola di era McDowell tentu tidak sepadat sekarang; intensitas modern inilah yang memungkinkan Guardiola melampaui rekor tersebut hanya dalam kurun waktu 10 musim.

- Advertisement -

“Sepuluh tahun adalah waktu yang sangat lama, dan saya pikir klub ini membutuhkan manajer baru, energi baru dengan para pemain luar biasa yang kami miliki saat ini, dan mulai menulis babak baru,” ujar Guardiola dalam konferensi pers perpisahannya.

Seluruh buku perjalanan Guardiola di City telah dibedah dari berbagai sudut sejak berita kepergiannya dipastikan awal pekan ini. Namun, untuk merayakan warisannya, mari kita napak tilas 10 tahun kiprah Guardiola di Manchester melalui 10 pertandingan ikonik—satu dari setiap musim—yang menyoroti fondasi utama dari sebuah dinasti sepak bola terbesar di era modern.

- Advertisement -

2016/17: Manchester City 2-2 Tottenham (21 Januari 2017)

Musim dingin Inggris memberikan tamparan keras di musim perdana Guardiola. Setelah kekalahan telak dari Leicester (di mana ia melontarkan kutipan legendaris, “Saya bukan pelatih untuk melakukan tekel”), banyak yang meragukan apakah gaya mainnya cocok untuk Premier League.

Saat menjamu Spurs yang sedang on-fire, Guardiola menolak berkompromi. Ia mengembalikan formasi murni 4-3-3 ala Barcelona. Meski berakhir imbang 2-2 berkat gol Leroy Sane dan Kevin De Bruyne, laga ini menjadi titik balik. City kembali bermain dengan identitasnya dan tak terkalahkan dalam 11 laga berikutnya. Sesuatu yang besar sedang dibangun.

2017/18: Manchester City 7-2 Stoke City (14 Oktober 2017)

Jika ada laga yang membungkam para kritikus yang menyebut taktik Pep tak akan berhasil di Inggris, inilah momennya. City menghancurkan Stoke 7-2 dengan permainan yang seolah berasal dari planet lain.

Kevin De Bruyne memberikan assist yang menentang nalar, sementara Fabian Delph—seorang gelandang tengah—tampil apik sebagai inverted left-back. Laga ini adalah puncak keindahan sepak bola Guardiola saat City melaju mengumpulkan 100 poin dan menjadi Centurions.

2018/19: Manchester City 3-1 Manchester United (11 November 2018)

Rivalitas abadi dengan Jose Mourinho berlanjut di Manchester, namun laga ini menjadi bukti bahwa jarak antara keduanya kini layaknya jurang. City mencabik-cabik United tanpa ampun. Laga ditutup dengan mahakarya khas Guardiola: gol jarak dekat Ilkay Gundogan yang tercipta lewat skema 44 umpan berturut-turut. Pep secara mutlak memenangkan perdebatan melawan Mourinho.

- Advertisement -

2019/20: Real Madrid 1-2 Manchester City (26 Februari 2020)

Di tengah bayang-bayang sanksi UEFA dan tekanan di luar lapangan, City bertandang ke Santiago Bernabeu sebagai underdog. Guardiola melakukan kejutan taktik dengan formasi 4-4-2-0 tanpa striker murni, menempatkan De Bruyne dan Bernardo Silva sebagai false nine ganda.

Sempat tertinggal, City membalikkan keadaan lewat sundulan Gabriel Jesus dan penalti De Bruyne. Ini adalah pertunjukan mentalitas baja yang selalu menjadi tolok ukur tim-tim terbaik Guardiola.

2020/21: Chelsea 1-3 Manchester City (3 Januari 2021)

Ini adalah musim yang emosional. Pandemi Covid-19 merenggut nyawa ibunda Guardiola, dan ia mengakui bahwa klub serta warga Manchester lah yang memberinya kekuatan.

Di atas lapangan, City sempat terseok-seok sebelum lawatan ke markas Chelsea di awal tahun baru. Guardiola kembali memutar otak dengan merotasi false nine antara Bernardo, De Bruyne, dan Gundogan. Hasilnya? Chelsea hancur lebur di babak pertama. Gundogan menutup musim itu sebagai top skor klub, membuktikan jeniusnya eksperimen posisi sang manajer.

2021/22: Liverpool 2-2 Manchester City (3 Oktober 2021)

Anfield selalu menjadi neraka bagi Guardiola, namun laga ini menunjukkan kedewasaan timnya. Sempat tertinggal dua kali oleh gol-gol fantastis Liverpool, City menolak menyerah. Phil Foden dan De Bruyne memastikan hasil imbang. Momen ketika Rodri melakukan blok krusial di garis gawang pada injury time menjadi bukti bahwa City tak lagi hancur di bawah tekanan publik Merseyside.

- Advertisement -

2022/23: Manchester City 4-0 Real Madrid (17 Mei 2023)

Inilah puncak kesempurnaan. Masterpiece yang paling paripurna. Di semifinal Liga Champions, City melumat raja Eropa, Real Madrid, tanpa ampun. Bernardo Silva dan Jack Grealish membuat Madrid tak bisa bernapas, sementara John Stones bermain luar biasa dari bek tengah menjadi gelandang serang. Ini adalah permainan terbaik yang pernah ditampilkan skuad Treble Winners Guardiola.

- Advertisement -

2023/24: Manchester City 3-1 Manchester United (3 Maret 2024)

Laga ini adalah panggung pembuktian bagi sang “anak Stockport”, Phil Foden. Sempat tertinggal oleh gol roket Marcus Rashford, City kesulitan mencari celah. Foden kemudian mengambil alih tanggung jawab dengan mencetak gol spektakuler dan menyihir jalannya pertandingan. Di musim di mana ia meraih gelar Player of the Year, laga ini membuktikan bahwa anak emas Guardiola telah menjelma menjadi tulang punggung utama tim.

2024/25: Bournemouth 1-2 Manchester City (30 Maret 2025)

Dalam musim yang berat bagi City, laga perempat final FA Cup ini menjadi saksi inovasi gila Guardiola lainnya. Tertinggal 1-0 dan buntu, Pep memasukkan Nico O’Reilly—bintang muda akademi yang berposisi asli sebagai pemain “Nomor 10″—dan memainkannya sebagai bek kiri! O’Reilly mengubah permainan, mencetak assist, dan sejak saat itu tak pernah tergantikan di posisi barunya. Ini adalah evolusi full-back terakhir Guardiola di Manchester.

2025/26: Arsenal 0-2 Manchester City (22 Maret 2026)

Musim terakhir yang fluktuatif diakhiri dengan final Carabao Cup yang emosional. Menghadapi Arsenal, City tampil sebagai underdog. Namun, 20 menit setelah turun minum adalah Guardiola klasik: Arsenal tak bisa keluar dari tekanan, dan City memenangkan setiap perebutan bola.

Nico O’Reilly mencetak dua gol. Pemain-pemain baru seperti James Trafford yang brilian di bawah mistar, serta Antoine Semenyo dan Rayan Cherki yang tampil memukau, menunjukkan bahwa tongkat estafet telah diserahkan dengan aman. Malam itu, di Wembley, Guardiola tahu tugasnya telah selesai. Ia meninggalkan sepak bola Inggris sebagai seorang pemenang, lagi dan lagi.

- Advertisement -

“Sepuluh tahun adalah waktu yang sangat lama, dan saya pikir klub ini membutuhkan manajer baru, energi baru dengan para pemain luar biasa yang kami miliki saat ini, dan mulai menulis babak baru.” — Pep Guardiola, Mei 2026.

Mingguan

Timnas Indonesia Juara ASEAN Cup: 3 Reaksi Emosional Bintang Garuda!

Penantian panjang berakhir! Timnas Indonesia resmi juara FIFA ASEAN Cup 2026 usai tekuk Thailand. Simak curhatan haru Ole Romeny, Luke Vickery, dan Dean James.

Cristiano Ronaldo Tinggalkan Timnas Portugal dan Terancam Sanksi Berat!

Cristiano Ronaldo tinggalkan kamp latihan Timnas Portugal di Kopenhagen usai kecewa dicadangkan Jorge Jesus. CR7 terancam sanksi skorsing dari FPF.

Skenario Hidup Mati Skuad Garuda ke Final FIFA ASEAN Cup 2026: Wajib Pesta Gol Lawan Bangladesh!

Hitung-hitungan skenario Timnas Indonesia lolos ke final FIFA ASEAN Cup 2026. Skuad Garuda wajib pesta gol lawan Bangladesh demi usir Malaysia dari puncak.

Berita Terkait

Timnas Malaysia Catat Rekor Aneh: 3 Fakta Gagal Juara Meski ...

Ironi di ajang FIFA ASEAN Cup 2026. Timnas Malaysia mencetak rekor clean sheet sempurna tanpa kebobolan satu gol pun, namun gagal melaju ke final. Simak faktanya!

Ousmane Dembele Memble: 3 Fakta Mengecewakan Saat Prancis Ba...

Ousmane Dembele tampil di bawah ekspektasi meski Prancis menang telak 4-1 atas Belgia. Simak statistik minor dan pembelaan Zinedine Zidane di sini!

Thailand Kalah Adu Penalti: 3 Fakta Menyakitkan Kegagalan Sk...

Timnas Thailand harus merelakan gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 jatuh ke tangan tuan rumah, Indonesia. Bertanding di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), J...

Timnas Indonesia Juara ASEAN Cup: 3 Reaksi Emosional Bintang...

Penantian panjang berakhir! Timnas Indonesia resmi juara FIFA ASEAN Cup 2026 usai tekuk Thailand. Simak curhatan haru Ole Romeny, Luke Vickery, dan Dean James.

Ranking FIFA Indonesia Melesat ke-117: Rekor John Herdman Sa...

Posisi ranking FIFA Indonesia kembali menunjukkan tren peningkatan positif di bawah kepemimpinan pelatih kepala asal Inggris, John Herdman. Berdasarkan pembaru...

Prediksi Timnas Indonesia vs Thailand di Final: 5 Analisis T...

Malam puncak yang paling mendebarkan bagi seluruh pecinta sepak bola di kawasan Asia Tenggara akhirnya tiba di depan mata. Ajang turnamen bergengsi regional ak...

Trending

Hasil Akhir Hong Kong vs Laos: Skuad Tuan Rumah Ng...

Timnas Hong Kong sukses membantai Laos dengan skor telak 4-0 di laga Grup A Challenge Division FIFA ASEAN Cup 2026 yang berlangsung di Kai Tak Sports Park.

Comeback Dramatis di Hiroshima! Brace Ayase Ueda B...

Hasil Kirin Challenge Cup 2026 Jepang vs Venezuela skor 2-1. Brace Ayase Ueda bawa Samurai Biru comeback dramatis sekaligus pecah rekor kemenangan sejak 2012.

Drama Gila Menit Akhir Bawa Indonesia Bantai Bangl...

Hasil akhir Timnas Indonesia vs Bangladesh skor 9-2. Drama gol masa injury time bawa Skuad Garuda tikung Malaysia lolos ke final via produktivitas gol.

Kilas Balik Pembelaan Keras Pep Guardiola untuk Ma...

Kilas balik deretan komentar dan pembelaan Pep Guardiola untuk Manchester City di tengah gempuran kasus 115 dakwaan pelanggaran FFP oleh Premier League.