LAS VEGAS, OneSportsID – Kejutan besar kembali mengguncang octagon Ultimate Fighting Championship (UFC).
Sean Strickland sukses membuktikan diri sebagai petarung bermental baja setelah berhasil mengalahkan “monster” gulat asal Chechnya, Khamzat Chimaev, untuk merebut sabuk juara kelas menengah (Middleweight).
Bertarung selama lima ronde penuh yang menguras fisik dan emosi, Strickland akhirnya diangkat tangannya sebagai pemenang melalui keputusan juri yang terbelah (split decision).
Ronde 1: Dominasi Mutlak Sang “Borz”
Sejak bel pertama berbunyi, Khamzat Chimaev langsung menampilkan ciri khasnya: agresivitas tingkat tinggi. Chimaev tidak butuh waktu lama untuk langsung melancarkan takedown sukses ke arah Strickland.
Satu menit berlalu, Chimaev langsung bertransisi mengambil punggung (back mount) Strickland. Dalam posisi layaknya “tas ransel” tersebut, Chimaev terus mendominasi dan berkali-kali mencoba melancarkan kuncian leher (rear-naked choke).
Meski terus ditekan dan dibanting kembali saat mencoba berdiri, Strickland menunjukkan pertahanan luar biasa dan berhasil bertahan hingga bel ronde pertama menyelamatkannya.
Ronde 2 & 3: Titik Balik dan Perang Berdiri
Memasuki ronde kedua, ritme pertarungan mulai berubah. Selama 1,5 menit awal, laga berjalan dalam skema stand-up fighting. Petaka bagi Chimaev datang ketika upaya takedown-nya secara brilian berhasil digagalkan oleh Strickland.
Pertahanan solid itu justru menjadi titik balik. Saat pertarungan berlanjut ke area bawah (ground), Strickland berbalik mengambil posisi dominan dan sukses menghujani Chimaev dengan pukulan telak (ground and pound).
Ronde ketiga berjalan jauh lebih berhati-hati bagi Chimaev. Efek dari defense solid Strickland di ronde sebelumnya membuat sang “Borz” enggan sembarangan menerjang.
Laga berubah menjadi perang striking (tukar pukulan) di area tengah octagon. Jab dan kombinasi pukulan yang mendarat membuat hidung kedua petarung mulai mengucurkan darah.
Ronde 4 & 5: Penentuan Berdarah di Octagon
Di ronde keempat, tensi jual beli pukulan semakin panas. Chimaev terus berusaha memberikan tekanan maju, namun Strickland melayaninya dengan counter tinju yang presisi.
Tersisa satu menit, Chimaev akhirnya berhasil melakukan takedown, namun waktu tidak cukup baginya untuk mengeksekusi kuncian.
Di ronde penentuan (ronde 5), Chimaev kembali ke mode aslinya dengan langsung melancarkan takedown di awal waktu dan menekan Strickland ke pagar octagon.
Hebatnya, Strickland bukan tipe petarung yang hanya pasrah bertahan. Ia secara agresif membalas dengan serangan dirty boxing dalam jarak rapat.
Ketika laga kembali ke posisi berdiri, Chimaev mencoba memburu sang lawan. Namun, akurasi dan volume pukulan mematikan dari Strickland sukses menyobek wajah Chimaev. Laga berakhir dengan kedua petarung dalam kondisi kelelahan dan babak belur.
Opini Analisis: Stamina dan Jab Jadi Kunci
Keputusan akhir harus diserahkan kepada juri. Dua juri memberikan skor 48-47 untuk keunggulan Strickland, sementara satu juri memberikan 48-47 untuk Chimaev. Strickland pun resmi dinobatkan sebagai juara baru.
Dari kacamata opini, kemenangan Strickland ini adalah masterclass dalam hal mengelola pacing (stamina) dan pertahanan takedown.
Mampu selamat dari badai gulat Chimaev di ronde pertama tanpa terkena submission adalah kunci utama.
Setelah Chimaev kehabisan tenaga ledak di ronde-ronde berikutnya, Strickland menggunakan jab tinjunya yang terorganisir dengan rapi untuk merusak wajah dan mengumpulkan poin krusial. Hype Chimaev sukses diruntuhkan oleh kedisiplinan murni.

