back to top

Mengapa Food Estate Merauke Bukan Solusi Pangan dan Energi?

Berdasarkan laporan CELIOS, megaproyek Food Estate Merauke untuk bioetanol dinilai bukan solusi ketahanan pangan dan energi karena sarat kerugian finansial dan ekologis.

Berita Terkait

- Advertisement -

JAKARTA, OneSportsID – Ambisi pemerintah untuk mengamankan ketahanan energi dan pangan nasional melalui megaproyek Food Estate (Lumbung Pangan) di Merauke, Papua Selatan, kembali menuai kritik tajam.

Di atas kertas, narasi menyulap jutaan hektare lahan menjadi sentra produksi bioetanol demi mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil terdengar sangat heroik.

Namun, jika kita bedah lebih dalam menggunakan akal sehat dan data—merujuk pada publikasi terbaru dari CELIOS (Center of Economic and Law Studies) bertajuk Why Are Food Estates Not the Answer for Food and Energy Security?—proyek ini justru lebih menyerupai bom waktu finansial dan ekologis. Menurut opini gue, ambisi ini ibarat memaksa lari maraton tapi menggunakan sandal jepit; terlihat gagah di garis start, tapi pasti berdarah-darah di ujung lintasan.

Berikut adalah bedah fakta mengapa Food Estate bukanlah jawaban yang kita cari.

1. Boncos Finansial Triliunan Rupiah

Membangun industri bioetanol dari nol di daerah pelosok yang minim infrastruktur dasar jelas bukan perkara murah.

Laporan CELIOS menaksir bahwa program ekspansi bioetanol ini bakal menyedot anggaran hingga US$ 11 miliar (sekitar Rp 170 triliun) selama sepuluh tahun ke depan.

Angka raksasa ini terbagi untuk mencetak 2 juta hektare kebun tebu, membangun pabrik gula, hingga fasilitas penyulingan. Belum lagi urusan logistik yang sangat brutal.

- Advertisement -

Membangun jalan di atas lahan rawa Papua mengharuskan material dasar seperti aspal dan batu didatangkan dari pulau lain (seperti Maluku) menggunakan tongkang.

Selain itu, jika memaksakan produksi bioetanol, negara diproyeksikan harus menanggung beban subsidi hingga US$ 200 juta per tahun mulai tahun 2030 agar harganya bisa bersaing dengan bensin biasa.

Pertanyaannya: apakah APBN kita cukup sehat untuk menanggung “bakar uang” sebesar ini secara terus-menerus?

2. Transparansi Gelap dan Bayang-Bayang Oligarki

Fakta yang paling membuat dahi berkerut adalah masuknya korporasi raksasa yang memiliki kedekatan politik kental dengan lingkar kekuasaan. CELIOS menyoroti dua pemain utama:

  • Jhonlin Group (milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam) yang dilaporkan telah mulai menggarap jalan akses di rawa-rawa tersebut.
  • Jaringan First Resources (terkait dengan keluarga Fangiono) melalui perusahaan seperti PT Global Papua Abadi yang memegang Hak Guna Usaha (HGU) di sana.

Yang menjadi masalah krusial di sini adalah transparansi. Proyek bernilai triliunan rupiah ini berjalan dengan minimnya kejelasan proses tender publik.

Pemberian fasilitas seperti tax holiday kepada korporasi-korporasi ini semakin mengaburkan keuntungan riil yang akan didapat oleh kas negara.

Proyek ini terkesan lebih condong sebagai karpet merah bagi segelintir elit bisnis ketimbang proyek strategis nasional yang akuntabel.

3. Ironi “Energi Hijau” yang Menghancurkan Hutan

Pemerintah mempromosikan bioetanol sebagai langkah menekan emisi karbon. Faktanya? Pembabatan 2 juta hektare hutan dan lahan gambut di Merauke diperkirakan akan melepaskan 782,45 juta ton emisi CO₂.

Ini sama saja dengan menggandakan total emisi gas rumah kaca tahunan Indonesia.

Membabat hutan perawan demi menanam tebu yang ujung-ujungnya dibakar di dalam mesin kendaraan bermotor adalah sebuah paradoks lingkungan tingkat tinggi.

- Advertisement -

Selain itu, deforestasi brutal ini berisiko memicu sentimen negatif dari pasar global (seperti aturan EUDR dari Uni Eropa), yang ujungnya bisa memboikot komoditas ekspor andalan Indonesia lainnya.

4. Jangan Paksakan “Cosplay” Jadi Brazil

Narasi pemerintah sering berkaca pada kesuksesan Brazil dalam industri bioetanol. Masalahnya, perbandingan ini cacat logika (apple to orange).

Brazil menghabiskan waktu puluhan tahun sejak era 70-an untuk membangun pipa distribusi, stasiun pengisian khusus, dan pabrik terintegrasi.

Mereka memproses tebu murni dengan biaya sangat efisien (US$ 0,35 per liter). Sebaliknya, Indonesia masih mengandalkan molase (tetes tebu—produk sisa pabrik gula) yang pasokannya terbatas dan harganya fluktuatif.

Akibatnya, biaya produksi bioetanol kita bisa dua kali lipat lebih mahal dari Brazil. Kita tidak punya infrastruktur yang matang untuk memaksakan skema ini dalam waktu instan.

5. Kendaraan Listrik (EV) Adalah Jawaban yang Lebih Masuk Akal

Ketimbang menghamburkan Rp 170 triliun untuk merusak hutan Papua demi memperpanjang umur mesin bensin konvensional, laporan CELIOS memberikan solusi yang jauh lebih logis: Fokus pada ekosistem Kendaraan Listrik (EV).

Tren adopsi EV di Indonesia sedang melonjak tajam, didorong oleh insentif pajak pemerintah.

Menurut hitungan, kehilangan pendapatan negara dari insentif pajak EV “hanya” sekitar US$ 2,9 miliar, jauh lebih murah dari biaya food estate.

Satu mobil listrik yang berjalan sejauh 20.000 km bisa menghemat impor bahan bakar hingga 1.320 liter.

Jika jaringan listrik PLN terus digeser ke energi terbarukan, EV akan menjadi solusi yang 100% bebas emisi tanpa harus menggusur masyarakat adat atau membakar hutan gambut.

- Advertisement -

Food Estate Merauke untuk bioetanol, pada akhirnya, lebih terlihat sebagai ilusi ketahanan energi yang dipaksakan.

Sebuah kebijakan top-down usang yang mengorbankan APBN dan ekologi demi memuaskan ambisi politik yang salah arah.

Sumber : https://celios.co.id/why-food-estates-are-not-the-answer-for-food-and-energy-security/

- Advertisement -

Mingguan

Jadwal Lengkap Espanyol vs Real Madrid di Pembuka La Liga 2026/2027

Los Blancos mengusung misi balas dendam dan memutus dominasi Barcelona dengan mendatangkan bintang-bintang anyar. Simak jadwal kick-off dan daftar pertandingan lengkap La Liga pekan ini.

Juara Bertahan Kian Perkasa! Arsenal Amankan Transfer Ezri Konsa Senilai £51 Juta dari Aston Villa

Ditengah krisis cedera William Saliba, Mikel Arteta bergerak cepat memperkuat lini pertahanan The Gunners sekaligus memanfaatkan eksodus bintang di skuad Unai Emery.

Ronaldinho Turun Gunung Gabung Ravenna FC! Ini 3 Legenda yang Masih Aktif Merumput di Usia Senja

Menolak tua, legenda sepak bola Brasil ini kembali ke lapangan hijau di usia 46 tahun. Namun, ia tidak sendirian; tiga pemain ini membuktikan bahwa di dunia sepak bola, usia benar-benar sekadar angka.

Dua Kali Pingsan di Lapangan, Jamal Musiala Ungkap Didiagnosis ‘Absence Seizures’

Bintang Bayern Munchen dan Timnas Jerman tersebut mengonfirmasi kondisi gangguan neurologis yang dialaminya usai kolaps dalam dua laga pramusim berturut-turut.

Jadwal Newcastle vs Liverpool 2026: Era Baru Pelatih dan Reu...

NEWCASTLE UPON TYNE – Pertemuan antara Newcastle United dan Liverpool selalu memiliki tempat khusus dalam buku sejarah Premier League sebagai salah satu bentro...

Mogok Kerja Hyundai Cetak Rekor 10 Tahun Terakhir: Kerugian ...

SEOUL – Industri otomotif Korea Selatan tengah menghadapi guncangan hebat. Raksasa otomotif Hyundai Motor terpaksa menelan kerugian triliunan won setelah puluh...

Klasemen Liga Inggris 2026/2027 Pekan ke-1: Arsenal Berkibar...

LONDON – Kompetisi sepak bola paling kompetitif di dunia, Premier League 2026/2027, baru saja menggelar enam dari sepuluh pertandingan di pekan pembukanya. Ken...

Petaka Bola Mati di MKM Stadium: Hull City Beri Pelajaran Ta...

Mendominasi jalannya laga tak menjamin kemenangan. Setan Merah harus menelan pil pahit di laga pembuka Premier League 2026/2027 akibat lemahnya organisasi pertahanan saat menghadapi skema set-piece.

Trending

Cari Kaca Film Berkualitas di Bali? Kunjungi Kevin...

Memilih kaca film original bukan sekadar soal gaya, tetapi investasi perlindungan dari terik matahari Bali. Simak panduan menghindari produk abal-abal agar interior mobil Anda tetap awet dan sejuk.

Juara Bertahan Kian Perkasa! Arsenal Amankan Trans...

Ditengah krisis cedera William Saliba, Mikel Arteta bergerak cepat memperkuat lini pertahanan The Gunners sekaligus memanfaatkan eksodus bintang di skuad Unai Emery.

Julian Alvarez Diklaim Jadi Kepingan Terakhir Menu...

Tampil dominan di dua laga pembuka, skuad asuhan Mikel Arteta dinilai tinggal membutuhkan satu penyerang tajam untuk mengawinkan gelar Premier League dan Liga Champions.

Raja Backlink

RajaBackLink.com