Piala Dunia 2026 mungkin telah menemukan juaranya, tetapi perdebatan terbesar justru muncul setelah peluit akhir berbunyi.
Lionel Messi menutup turnamen dengan catatan luar biasa. Di usia 39 tahun, kapten Argentina itu mencetak 8 gol dan 4 assist, membawa Albiceleste melaju hingga partai final. Namun ketika penghargaan Bola Emas Piala Dunia diumumkan, nama yang keluar bukan Messi.
FIFA memilih Rodri sebagai pemain terbaik turnamen.
Keputusan itu langsung memicu reaksi keras di berbagai kalangan. Banyak pengamat menilai Messi adalah sosok paling berpengaruh sepanjang kompetisi, terutama karena kontribusinya yang konsisten sejak fase grup hingga final.
Jurnalis TyC Sports, Antonio Serpa, termasuk yang mempertanyakan keputusan tersebut. Menurutnya, Messi bukan sekadar pemain terbaik Argentina, melainkan figur sentral yang menghidupkan turnamen dan menjadi pembeda di momen-momen krusial.
Di sisi lain, pendukung Rodri menilai penghargaan tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah gol atau assist. Peran sebagai pengatur ritme permainan, keseimbangan tim, kemampuan membaca pertandingan, hingga kontribusi tak terlihat dalam statistik juga menjadi faktor penilaian.
Perdebatan inilah yang kembali memunculkan pertanyaan lama: apa sebenarnya parameter utama FIFA dalam menentukan pemain terbaik sebuah Piala Dunia?
Apakah statistik individu? Prestasi tim? Atau pengaruh menyeluruh terhadap permainan?
Satu hal yang pasti, keputusan kali ini membuat diskusi tentang Bola Emas Piala Dunia 2026 menjadi salah satu topik paling panas setelah turnamen berakhir.

