Manchester City kembali diguncang gempa besar. Laporan terbaru dari The Athletic mengklaim bahwa raksasa Premier League tersebut telah dinyatakan bersalah atas hampir seluruh (114 dari 115) dakwaan pelanggaran regulasi finansial (FFP) yang dijatuhkan sejak Februari 2023.
Menyikapi kebocoran hasil investigasi ini, pihak Manchester City tetap berdiri pada pendirian mereka. Manajemen klub membantah keras segala tuduhan dan meyakini adanya bukti tak terbantahkan yang mendukung posisi mereka, sembari menuntut agar otoritas Premier League bersikap independen, imparsial, dan bebas dari pengaruh eksternal.
Meski putusan resmi dari Premier League belum diketok palu, publik sudah mulai menerka seberapa fatal sanksi yang akan menimpa peraih 10 gelar juara Liga Inggris ini. Berdasarkan buku regulasi Premier League, hukuman yang bisa dijatuhkan sangat beragam; mulai dari denda, pengurangan poin masif, pencabutan gelar, hingga “opsi nuklir” berupa ekspulsi atau pengusiran paksa dari keanggotaan liga. Jika opsi terakhir yang diambil, City harus merangkak dari kasta bawah piramida sepak bola Inggris (Football League).
Ancaman degradasi paksa ini memancing publik untuk membandingkannya dengan dua kasus kelam di dunia olahraga. Pertama, skandal Calciopoli 2006 yang membuat Juventus dilucuti dua gelarnya dan dilempar ke Serie B akibat penyuapan wasit. Namun, kasus pengaturan wasit memiliki hubungan sebab-akibat yang lebih instan dibandingkan pelanggaran finansial, ditambah rentang waktu kejadian kasus Man City yang sudah memakan waktu hampir sewindu.
Preseden kedua yang dinilai lebih relevan adalah skandal klub rugbi Inggris, Saracens. Pada 2019 hingga 2020, kampiun rugbi tersebut terbukti memanipulasi batas gaji (salary cap) dan bersikap tidak kooperatif selama audit. Buntutnya, Saracens dijatuhi hukuman gila berupa pengurangan 105 poin secara total dan langsung didegradasi ke divisi dua.
Mengingat Everton dan Nottingham Forest sempat dihukum pengurangan poin karena pelanggaran minor, bukan tidak mungkin sanksi yang berkali-kali lipat lebih brutal sedang menanti Manchester City di ujung jalan.