Pembubaran Film Dokumenter di Ternate oleh Aparat Ancam Kebebasan Sipil

Pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" di Ternate dibubarkan oleh aparat. Tindakan ini dinilai mencederai kebebasan sipil dan memicu kritik tajam terkait kewenangan institusi pertahanan.

- Advertisement -

TERNATE, OneSportsID – Ada sesuatu yang sangat janggal dan patut dipertanyakan ketika sebuah pemutaran film dokumenter—forum yang pada dasarnya hanya mengajak audiens duduk, menonton, dan berpikir—tiba-tiba dianggap sebagai ancaman berbahaya yang harus dibubarkan secara paksa.

Peristiwa penghentian pemutaran film dokumenter bertajuk “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di Ternate belakangan ini bukanlah sekadar cerita tentang batalnya sebuah acara. Lebih dari itu, insiden ini adalah potret reflektif tentang bagaimana instrumen negara memaknai sebuah ketidaknyamanan, sekaligus memunculkan pertanyaan kritis: sebenarnya, siapa yang sedang merasa terancam?

Alarm Mundurnya Demokrasi Indonesia

Kejadian di Ternate ini terasa seperti pengulangan sejarah kelam dalam kemasan yang lebih halus. Kita tidak lagi menyaksikan pelarangan besar-besaran yang vulgar seperti di masa lalu, melainkan intervensi-intervensi berskala kecil yang seolah kasuistik, namun memiliki pola sistematis untuk menyempitkan ruang diskusi.

- Advertisement -

Sinyal penyusutan ruang sipil ini sejatinya sudah lama menyala. Laporan lembaga internasional Freedom House pada 2025 masih menempatkan Indonesia dalam kategori “partly free” (bebas sebagian) dengan skor kebebasan sipil hanya 59 dari 100.

Kondisi ini diperkuat oleh data rilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan 62 persen masyarakat Indonesia merasa ruang untuk berpendapat belum benar-benar aman. Angka ini adalah cerminan jujur bahwa kebebasan di negeri ini memang ada, tetapi tidak sepenuhnya bisa dinikmati tanpa rasa waswas.

- Advertisement -

Medsos Bukan Landasan Hukum Publik

Dalih pembubaran yang kerap digunakan, seperti “adanya penolakan di media sosial” atau pelabelan “provokatif”, tampak sangat goyah jika diuji menggunakan nalar rasional tata kelola negara hukum.

Kebisingan di media sosial bukanlah fondasi kebijakan publik yang kokoh. Sifatnya cair, sarat emosi, dan sering kali tidak terverifikasi validitasnya. Jika narasi digital yang tidak berdasar bisa dijadikan legitimasi untuk membatasi ruang fisik dan kebebasan sipil, maka negara sesungguhnya sedang mengambil keputusan yang didorong oleh kecemasan, bukan rasionalitas hukum.

Intervensi Aparat dan Peringatan Komnas HAM

Masalah menjadi jauh lebih serius dan fundamental ketika kita menyoroti pihak yang melakukan pembubaran. Keterlibatan TNI dalam menghentikan kegiatan sipil menjadi tanda tanya besar. Sebagai institusi pertahanan negara, TNI memiliki mandat yang sangat jelas dan spesifik: menjaga kedaulatan negara dari ancaman militer.

Ketika aparat pertahanan mulai masuk dan mengintervensi ruang diskusi sipil—seperti membubarkan pemutaran film—batas kewenangan itu menjadi sangat kabur.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah memberikan peringatan keras bahwa tindakan aparat tersebut berpotensi melampaui kewenangan dan mencederai prinsip dasar negara hukum. Ini bukan sekadar pelanggaran administratif biasa, melainkan sebuah preseden buruk.

- Advertisement -

Sebagaimana dicatat dalam studi World Justice Project, negara dengan kualitas rule of law yang lemah cenderung lebih sering membiarkan intervensi aparat di ruang sipil. Artinya, jika garis batas ini dibiarkan dilanggar tanpa ada koreksi dan sanksi tegas, maka batasan tersebut akan terus bergeser, pelan tapi pasti, hingga ruang kebebasan sipil benar-benar habis tak bersisa.

Via : Kompas

Mingguan

Berita Terkait

Hasil Persebaya vs Isenmulang: 3 Poin Krusial dari Drama Pen...

Hasil Persebaya vs Isenmulang berakhir 1-0 untuk kemenangan Bajol Ijo. Gol penalti Alex Martins usai tinjauan VAR bawa Persebaya naik ke 4 besar.

Top Banks in Indonesia Q3 2026: 10 Bank Terbaik Berdasarkan ...

Laporan Top Banks in Indonesia Q3 2026: BCA dan BRI pimpin skor digital, disusul kejutan SeaBank. Simak analisis komprehensif aset dan data perbankan di sini!

Timnas Malaysia Catat Rekor Aneh: 3 Fakta Gagal Juara Meski ...

Ironi di ajang FIFA ASEAN Cup 2026. Timnas Malaysia mencetak rekor clean sheet sempurna tanpa kebobolan satu gol pun, namun gagal melaju ke final. Simak faktanya!

Ousmane Dembele Memble: 3 Fakta Mengecewakan Saat Prancis Ba...

Ousmane Dembele tampil di bawah ekspektasi meski Prancis menang telak 4-1 atas Belgia. Simak statistik minor dan pembelaan Zinedine Zidane di sini!

Thailand Kalah Adu Penalti: 3 Fakta Menyakitkan Kegagalan Sk...

Timnas Thailand harus merelakan gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 jatuh ke tangan tuan rumah, Indonesia. Bertanding di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), J...

Timnas Indonesia Juara ASEAN Cup: 3 Reaksi Emosional Bintang...

Penantian panjang berakhir! Timnas Indonesia resmi juara FIFA ASEAN Cup 2026 usai tekuk Thailand. Simak curhatan haru Ole Romeny, Luke Vickery, dan Dean James.

Trending

Prediksi Timnas Indonesia vs Thailand di Final: 5 ...

Malam puncak yang paling mendebarkan bagi seluruh pecinta sepak bola di kawasan Asia Tenggara akhirnya tiba di depan mata. Ajang turnamen bergengsi regional ak...

Korea Selatan vs Jepang di Final Asian Games 2026:...

Panggung termegah olahraga Asia kembali menyajikan laga klasik yang paling dinantikan oleh jutaan pasang mata. Partai puncak cabang olahraga sepak bola putra a...

Portugal vs Norwegia: 5 Fakta Mengejutkan Era Baru...

Panggung megah kompetisi elite benua biru kembali menyajikan pertarungan yang sangat dinantikan oleh jutaan pasang mata. Pertandingan akbar yang mempertemukan ...

Hong Kong vs Kamboja: Petaka Menit 41 Dihukum Inst...

Laga final perebutan takhta juara antara Hong Kong vs Kamboja diwarnai ketegangan tinggi. Tembok pertahanan tim tamu akhirnya runtuh oleh gol maut Matthew Orr.