LONDON, ONESPORTS.ID – Arsenal berambisi menjadikan musim 2026/27 jauh lebih gemilang dari musim lalu. Setelah sukses menyudahi puasa panjang dengan menjuarai Liga Inggris—gelar pertama sejak 2004—dan menembus final Liga Champions, The Gunners kini membidik nama besar di bursa transfer.
Kabar yang tengah menggemparkan para penggemar Arsenal adalah ketertarikan klub untuk mendatangkan superstar Real Madrid, Vinicius Jr. Namun, mewujudkan kesepakatan antara dua raksasa Eropa ini tentu bukan perkara mudah. Berbagai kendala finansial dan negosiasi rumit masih membayangi potensi transfer ini.
Harga Selangit dan Situasi Kontrak di Madrid
Tidak diragukan lagi, Real Madrid akan mematok harga premium untuk pemain sekelas Vinicius Jr. Nilai transfer ini dipastikan akan melampaui rekor pembelian termahal Arsenal saat mendatangkan Declan Rice senilai £105 juta tiga tahun lalu.
Media asal Spanyol, Sport, melaporkan bahwa Madrid tidak akan melepas sang pemain di bawah angka €160 juta (£137 juta). Angka ini tentu menjadi tantangan berat bagi Arsenal yang harus mematuhi regulasi finansial Premier League dan UEFA.
Namun, Arsenal memiliki satu kartu as: sisa kontrak Vinicius. Pemain berusia 26 tahun itu tengah memasuki tahun terakhir kontraknya di Santiago Bernabeu dan belum menyepakati perpanjangan.
| Faktor Potensi Transfer | Keterangan |
| Harga Permintaan Madrid | €160 Juta (£137 Juta) |
| Status Kontrak Vinicius | Memasuki tahun terakhir (berpotensi bebas transfer musim depan) |
| Rekor Transfer Arsenal Saat Ini | £105 Juta (Declan Rice) |
Jika negosiasi perpanjangan kontrak buntu, Presiden Real Madrid Florentino Perez tentu tidak ingin kehilangan aset paling berharganya secara gratis musim depan. Madrid akan sangat termotivasi untuk menjualnya pada bursa transfer kali ini demi mendapatkan dana segar.
Mengapa Vinicius Sangat Dibutuhkan Arsenal?
Skuad asuhan Mikel Arteta sejatinya sudah sangat solid, namun sektor sayap kiri masih menjadi celah. Kepergian Leandro Trossard ke Besiktas dan kurangnya produktivitas Gabriel Martinelli di liga domestik membuat Arsenal harus mencari solusi pasti.
Meski Arsenal baru saja merogoh kocek €40 juta untuk mendatangkan sayap kiri asal Yunani, Christos Tzolis (24 tahun) dari Club Brugge, kehadiran Vinicius akan memberikan dampak instan yang masif.
- Rotasi Bintang: Vinicius dapat membagi beban serangan dengan Bukayo Saka yang kerap kelelahan akibat menit bermain yang terlalu tinggi.
- Mentalitas Juara: Pengalaman Vinicius di panggung elit Eropa sangat krusial untuk ambisi Arsenal mempertahankan gelar domestik dan menjuarai Liga Champions.
Alasan Real Madrid Rela Melepas Sang Bintang
Selain faktor kontrak, ada alasan taktis di balik potensi kepergian Vinicius. Kehadiran Kylian Mbappe membuat ruang gerak dan jatah sentuhan bola Vinicius menjadi terbatas. Keduanya kerap berebut ruang di sisi kiri penyerangan, menciptakan ketidakseimbangan taktis yang dikeluhkan oleh para manajer.
Ditambah lagi, kedatangan pemain baru berharga fantastis, Yan Diomande, yang beroperasi di sektor kanan, akan semakin menggerus porsi penguasaan bola yang selama ini menjadi keunggulan Vinicius.
Kendala Terbesar: Tuntutan Gaji Fantastis
Tantangan terberat bagi Arsenal bukanlah biaya transfer, melainkan tuntutan gaji sang pemain. Negosiasi kontrak baru Vinicius di Madrid terhambat karena ia menuntut gaji yang setara dengan Kylian Mbappe.
Berikut adalah perbandingan struktur gaji yang menjadi kendala:
| Subjek | Perkiraan Gaji Kotor per Tahun |
| Bukayo Saka (Pemain Bergaji Tertinggi Arsenal) | €18,3 Juta (£15,6 Juta) |
| Tawaran Kontrak Baru Real Madrid (Ditolak) | €28,5 Juta |
| Tuntutan Vinicius (Setara Mbappe) | €31 Juta + Bonus Signifikan |
Gaji yang diminta Vinicius mencapai hampir 170% dari gaji Saka. The Telegraph melaporkan pada 26 Juli bahwa Arsenal bersiap mengajukan tawaran yang memecahkan struktur gaji klub demi memenuhi ambisi ini. Di sisi lain, Sky Sports pada 28 Juli mengklaim bahwa Madrid masih optimis bisa memperpanjang kontrak sang pemain.
Jika Arsenal benar-benar mewujudkan transfer ini, langkah tersebut akan menjadi penegasan mutlak atas ambisi besar mereka menguasai Eropa di era Mikel Arteta.
