ONESPORTS.ID – Salah satu kekuatan Eropa, Tim Nasional Portugal, sukses bertahan dari pertarungan sengit melawan finalis Piala Dunia 2018, Kroasia, pada laga babak 32 besar Piala Dunia 2026. Selecao das Quinas memastikan kemenangan tipis 2-1 berkat gol telat dari Goncalo Ramos.
Namun, hasil tersebut nyaris berujung petaka ketika Josko Gvardiol tampak mencetak gol penyeimbang yang sangat dramatis untuk Kroasia lewat tendangan terakhir di masa injury time. Sayangnya, euforia Kroasia sirna setelah wasit meninjau monitor Video Assistant Referee (VAR) dan menganulir gol tersebut.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dan teknologi apa yang digunakan dalam pengambilan keputusan krusial ini?
Mengapa Gol Menit Akhir Kroasia Dianulir?
Pada menit ke-12 masa tambahan waktu (90+12′), Gvardiol sukses menjebol gawang Portugal. Namun, wasit asal Norwegia, Espen Eskas, segera menghentikan selebrasi untuk melakukan tinjauan VAR di pinggir lapangan.
Dengan menggunakan teknologi canggih, ofisial pertandingan menilai bahwa pemain pengganti Kroasia, Igor Matanovic, ternyata menyentuh bola dengan sangat tipis menggunakan kepalanya.
According to the data provided by Connected Ball Technology housed within the @adidasfootball Trionda, the official match ball of the @FIFAWorldCup, it was proven that contact was made by Croatia's #20 Igor Matanović in the build up to the goal against Portugal, allowing the… pic.twitter.com/AyBz11N3wV
— FIFA Media (@fifamedia) July 3, 2026
Sentuhan kecil inilah yang membuat rekan setimnya, Mario Pasalic, otomatis berada dalam posisi offside. Seandainya Matanovic tidak menyentuh bola, gol tersebut akan sah karena Pasalic berada dalam posisi onside saat umpan awal dilepaskan dari sisi kiri.
Tinjauan VAR juga harus memastikan satu hal krusial lainnya: bola sempat mengenai bagian atas kepala bek Portugal, Renato Veiga. Wasit harus menentukan apakah Veiga dengan sengaja memainkan bola.
Jika Veiga dinilai sengaja, maka posisi offside Pasalic akan otomatis terhapus (ter-reset). Namun, wasit Eskas secara tepat memutuskan bahwa Veiga tidak sengaja menyentuh bola karena ia terlihat menunduk untuk menghindari hantaman bola. Karena hanya berupa pantulan acak, keputusan offside tetap berlaku.
Kecanggihan Teknologi Connected Ball
Di Piala Dunia 2026, bola resmi Adidas Trionda dilengkapi dengan teknologi khusus yang memainkan peran sangat vital dalam menganulir gol Gvardiol. Sekilas, dan bahkan melalui tayangan ulang biasa, bola tampak sama sekali tidak mengenai kepala Matanovic.
Namun, VAR memiliki perangkat mutakhir untuk mengungkap fakta sebenarnya. Cip di dalam bola yang disebut oleh FIFA sebagai teknologi Connected Ball mampu mendeteksi setiap sentuhan, sekecil apa pun.
Berikut adalah cara kerja teknologi canggih ini:
- Sensor Detak Tinggi: Bola ini ditanamkan sensor Inertial Measurement Unit (IMU) kecil yang beroperasi pada kecepatan 500Hz. Artinya, sensor ini menangkap data pergerakan dan akselerasi bola 500 kali per detik dalam ruang tiga dimensi.
- Grafik Gelombang Audio: Layar VAR menampilkan grafik yang menunjukkan setiap sentuhan dalam bentuk gelombang audio (mirip pembacaan detak jantung).
- Sinkronisasi Video: Saat disinkronkan dengan video rekaman, terlihat adanya distorsi (lonjakan) pada grafik gelombang audio tepat saat bola melewati kepala Matanovic. Lonjakan inilah yang mengonfirmasi bahwa telah terjadi sentuhan (titik umpan baru).
Pada saat sentuhan itu tercatat, Pasalic dipastikan berada dalam posisi offside, sehingga gol Gvardiol harus dianulir. Sistem ini sangat mirip dengan teknologi Ultra Edge atau snicko yang digunakan dalam olahraga kriket untuk menentukan apakah pemukul bola melakukan kontak dengan bola.
“Tinjauan VAR menampilkan grafik di layar yang menunjukkan setiap sentuhan dalam bentuk gelombang audio. Saat disinkronkan dengan video, hal ini dapat menentukan apakah Matanovic memang menyentuh bola, karena distorsi pada panjang gelombang muncul tepat saat bola melewati kepalanya.”
