Menjelang usia 34 tahun pada Juni mendatang, era keemasan Mohamed Salah bersama Liverpool dipastikan segera berakhir. Bintang asal Mesir tersebut bersiap angkat koper dari Anfield pada bursa transfer musim panas 2026, memicu spekulasi luas di kalangan penggemar terkait destinasi klub baru Mohamed Salah selanjutnya.
Sejak berlabuh pada 2017 silam, Salah telah menuliskan namanya dengan tinta emas dalam buku sejarah The Reds. Sembilan musim pengabdiannya menghasilkan deretan trofi bergengsi, termasuk mengantarkan Liverpool meraih dua gelar Premier League (musim 2019/2020 dan 2024/2025) serta satu trofi Liga Champions (2018/2019).
Namun, perjalanan legendaris ini harus berakhir prematur meski ia baru memperpanjang kontrak dua tahun pada musim panas lalu. Pemicu utamanya diduga kuat berakar dari ketegangan internal dengan manajer Arne Slot dan jajaran eksekutif klub yang meruncing sejak Desember lalu, tepat sebelum ia berangkat membela timnas di ajang AFCON.
Keretakan hubungan ini semakin terlihat pasca-kekalahan dari Aston Villa pada bulan Mei. Melalui media sosial, Salah secara terbuka melontarkan kritik terhadap gaya bermain tim, menyuarakan kerinduannya pada filosofi sepak bola menyerang ala heavy metal yang selama ini menjadi identitas menakutkan Liverpool. Faktor gesekan ruang ganti yang bertepatan dengan tren penurunan performanya di lapangan, membuat perpisahan menjadi jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak.
Daya Tarik Finansial Saudi Pro League
Meski agen sang pemain, Remy Abbas, menegaskan belum ada keputusan final yang diambil, Liga Arab Saudi atau Saudi Pro League (SPL) diyakini menjadi kandidat terkuat untuk menjadi klub baru Mohamed Salah. Sebagai salah satu pesepak bola muslim paling ikonik di dunia, profil Salah sangat selaras dengan target pasar liga tersebut.
Klub-klub kaya Arab Saudi dipastikan tidak akan kesulitan memenuhi tuntutan gaji fantastis sang bintang. Jika merapat ke SPL, ada beberapa skenario menarik yang menanti. Al Nassr bisa menjadi opsi menggiurkan yang akan menduetkannya bersama Cristiano Ronaldo dan mantan rekan setimnya, Sadio Mane.
Di sisi lain, Al Ittihad dilaporkan masih menaruh minat besar sejak musim lalu, mengingat mereka butuh sosok suksesor setelah Karim Benzema hijrah ke Al Hilal. Klub kaya baru, Al Qadsiah, juga siap meramaikan persaingan. Sementara peluang menuju Al Hilal justru dinilai menipis menyusul adanya perubahan arah investasi dari pihak Public Investment Fund (PIF).
Peluang Tipis Menuju MLS dan Bertahan di Eropa
Selain Timur Tengah, Major League Soccer (MLS) sempat dikaitkan dengan perburuan Salah. Sayangnya, regulasi batas keuangan yang ketat di liga Amerika Serikat tersebut membuat proses transfer ini sangat rumit.
Meski nama-nama seperti LA Galaxy, LAFC, hingga Chicago Fire berpotensi merayu, jurnalis The Athletic, Tom Bogert, melaporkan belum ada manuver nyata dari tim MLS. Bahkan, San Diego FC yang dimiliki oleh miliarder keturunan Mesir, Mohamed Mansour, menyatakan bahwa mendatangkan megabintang tidak sejalan dengan filosofi olahraga mereka saat ini.
Opsi terakhir adalah tetap bertahan di Benua Biru. Klub elite seperti Paris Saint-Germain (PSG) atau Barcelona selalu membuka pintu untuk pemain sekaliber Salah. Di PSG, sistem rotasi pelatih Luis Enrique bisa memberikan waktu istirahat yang cukup bagi Salah di liga domestik, agar bisa tampil maksimal di kompetisi sekelas Liga Champions.
Kendati demikian, menolak tawaran finansial masif dari Arab Saudi di pengujung karier tentu bukan hal yang mudah. Ke mana pun ia melangkah, teka-teki penentuan klub baru Mohamed Salah dipastikan bakal menjadi tajuk utama terpanas di bursa transfer musim panas tahun ini.


