MADRID, OneSportsID – Mengapa Florentino Perez begitu nekat ingin memulangkan Jose Mourinho ke Santiago Bernabeu untuk musim 2026/2027?
Jawabannya bukan karena Mourinho adalah pelatih dengan taktik paling modern, melainkan karena Real Madrid sedang masuk ke dalam mode “Win Now” (Menang Sekarang Juga).
Setelah dua musim hampa tanpa trofi mayor, manajemen klub menyadari bahwa bermain atraktif tidak lagi cukup.
Mereka membutuhkan trofi instan untuk menyelamatkan wajah klub, dan Mourinho adalah master dalam urusan “menang dengan segala cara”.
Berikut adalah 4 poin analitis mengapa gaya pragmatis The Special One justru menjadi opsi paling rasional bagi Real Madrid saat ini:
1. Suntikan “Dark Arts” dan Mentalitas Kejam
Real Madrid saat ini dinilai terlalu “lembek” ketika berhadapan dengan lawan yang bermain rapat. Mourinho adalah profesor dari Dark Arts (ilmu hitam) dalam sepak bola:
membuang waktu secara cerdik, melakukan pelanggaran taktis, hingga memprovokasi lawan.
Ia akan mengembalikan mentalitas pembunuh berdarah dingin yang rela memenangkan pertandingan dengan skor kotor 1-0 demi mengamankan 3 poin.
2. Reinkarnasi Monster Serangan Balik (Counter-Attack)
Banyak yang lupa bahwa skuad Mourinho di Madrid pada 2011/2012 adalah salah satu tim dengan serangan balik paling mematikan dalam sejarah (mencetak rekor gol dan poin di LaLiga).
Saat ini, Madrid memiliki pelari-pelari cepat sekelas Kylian Mbappe dan Vinicius Jr. Mourinho tidak akan memaksa mereka bermain possession (penguasaan bola) yang membosankan, melainkan bertahan dalam blok rendah dan melepaskan transisi kilat yang langsung menusuk jantung pertahanan lawan.
3. Otoritas Mutlak Penakluk Bintang
Ruang ganti Real Madrid saat ini penuh dengan ego setinggi langit. Pendekatan persuasif ala Carlo Ancelotti atau Xabi Alonso terbukti mulai kehilangan magisnya. Mourinho menawarkan pendekatan kediktatoran. Ia tidak peduli seberapa besar nama seorang pemain; jika tidak mau ikut berlari mundur untuk bertahan, pemain tersebut akan duduk di bangku cadangan. Ketegasan ini yang sangat dibutuhkan untuk mengubah kumpulan superstar menjadi prajurit lapangan.
4. Menjadi “Tameng Hidup” bagi Tekanan Media
Di Madrid, tekanan media lokal jauh lebih mematikan daripada tekel lawan di lapangan. Mourinho selalu tahu cara memainkan peran sebagai bad cop atau “musuh bersama”.
Ia akan dengan sengaja memancing amarah media, wasit, hingga federasi, hanya untuk menyerap seluruh tekanan publik ke arah dirinya.
Dengan begitu, para pemainnya bisa bermain lepas tanpa harus memusingkan kritik tajam dari surat kabar Spanyol.
Kembalinya Jose Mourinho jelas merupakan sebuah perjudian ekstrem dari Florentino Perez. Ini bukan proyek jangka panjang untuk 5 atau 10 tahun ke depan.
Ini adalah misi jangka pendek untuk menghentikan pendarahan prestasi, meraup trofi secepat mungkin, dan membuktikan bahwa pragmatisme belum mati di era sepak bola modern.


