MADRID, OneSportsID – Rumor merapatnya Jose Mourinho ke Real Madrid untuk musim 2026/2027 memang terdengar sensasional.
Namun, jika dibedah secara rasional, rencana Florentino Perez untuk memulangkan sang pelatih asal Portugal tersebut justru terlihat seperti sebuah manuver kepanikan yang berisiko menjadi blunder fatal.
Menggantungkan harapan pada sosok yang masa keemasannya di level absolut telah berlalu lebih dari satu dekade silam adalah sebuah pertaruhan konyol bagi klub dengan standar setinggi Los Blancos.
Taktik Usang yang Terlindas Evolusi Modern
Fakta keras yang tidak bisa diabaikan adalah: Jose Mourinho belum pernah lagi memimpin klub dengan kaliber juara Liga Champions sejak ia meninggalkan Chelsea pada tahun 2015.
Perjalanannya di Manchester United, Tottenham, AS Roma, hingga Fenerbahce menunjukkan tren penurunan.
Dunia sepak bola telah berevolusi dengan kecepatan tinggi. Taktik pressing modern, transisi kilat, dan dominasi ruang yang diterapkan pelatih-pelatih muda telah membuat sistem pragmatis ala Mourinho terlihat kuno dan reaktif.
Membawa taktik usang ini ke dalam skuad Madrid yang penuh talenta ofensif berpotensi mematikan kreativitas dan potensi para pemain bintangnya.
Membawa Bensin ke Ruang Ganti yang Terbakar
Alasan Perez merekrut Mourinho kabarnya adalah untuk “menertibkan” ruang ganti Madrid yang sedang bermasalah. Ini adalah sebuah ironi besar.
Sejarah mencatat bahwa periode pertama Mourinho di Santiago Bernabeu (2010-2013) berakhir dengan kehancuran internal yang sangat parah.
Mourinho secara sistematis merusak keharmonisan tim dengan memicu konflik terbuka melawan ikon klub seperti Iker Casillas, Sergio Ramos, hingga berseteru dengan Cristiano Ronaldo.
Mengembalikan figur yang dikenal sering melemparkan kesalahan kepada pemainnya ke dalam ruang ganti yang saat ini sedang rapuh sama saja dengan menyiram bensin ke dalam api.
Trauma ini bahkan masih tersisa. Penolakan terang-terangan dari Iker Casillas terkait rumor kembalinya Mourinho adalah bukti nyata bahwa luka lama tersebut belum sepenuhnya sembuh.
Kepanikan Florentino Perez
Keputusan untuk menoleh ke belakang ini mencerminkan kegagalan manajemen Real Madrid dalam membangun proyeksi jangka panjang pasca runtuhnya era emas mereka.
Daripada mencari inovator taktik modern yang mampu memaksimalkan potensi pemain muda, Perez justru memilih jalan pintas bernuansa nostalgia.
Memulangkan Jose Mourinho mungkin akan memberikan guncangan instan dan atensi media yang masif.
Namun, dari segi stabilitas proyek olahraga jangka panjang, langkah ini adalah sebuah kemunduran besar yang berpotensi membawa Real Madrid semakin tertinggal dalam persaingan elit sepak bola Eropa.


