Pertandingan final Liga Champions hari Sabtu antara raksasa Premier League, Arsenal, dan sang juara bertahan Eropa, Paris Saint-Germain (PSG), benar-benar menyajikan tontonan kelas wahid yang memenuhi ekspektasi.
Laga baru berjalan lima menit, tim Meriam London langsung menggebrak. Kai Havertz sukses melesakkan bola ke langit-langit gawang Les Parisiens, membawa Arsenal unggul cepat. Namun, keunggulan tersebut sirna pada menit ke-64 ketika mantan peraih Ballon d’Or, Ousmane Dembele, sukses mengeksekusi tendangan penalti yang tak mampu dijangkau oleh kiper David Raya.
Berikut adalah rangkuman momen krusial di waktu normal:
| Menit | Tim | Pencetak Gol | Keterangan |
| 5′ | Arsenal | Kai Havertz | Tembakan keras ke atap gawang |
| 64′ | PSG | Ousmane Dembele | Tendangan Penalti |
Meskipun raksasa Prancis tersebut membombardir gawang Arsenal dengan sejumlah tembakan berbahaya, skor imbang 1-1 tetap bertahan hingga dua babak perpanjangan waktu usai. Laga pun harus ditentukan lewat drama adu penalti.
Keputusan Krusial di Babak Adu Penalti
Karena kedua manajer melakukan banyak pergantian pemain sepanjang laga yang melelahkan tersebut, daftar susunan penendang penalti pun harus dirombak secara darurat.
Di kubu Arsenal, empat penendang pertama diisi oleh barisan pemain menyerang dan gelandang yang tersisa di lapangan, yakni Viktor Gyokeres, Declan Rice, Gabriel Martinelli, dan Eberechi Eze. Namun, kejutan terjadi pada eksekutor kelima atau penendang penentu. Sosok yang maju ke titik putih adalah bek tengah, Gabriel.
Setelah melakukan gaya ancang-ancang yang sedikit tersendat, bek asal Brasil itu melepaskan tembakan yang justru melambung jauh di atas mistar gawang. Kegagalan fatal tersebut resmi mengakhiri mimpi Arsenal untuk dinobatkan sebagai raja Eropa.
Arteta Pasang Badan untuk Gabriel
Melihat seorang bek tengah maju sebagai eksekutor penalti penentu memang bukan hal yang lazim, meskipun bukan tidak pernah terjadi (seperti halnya Harry Maguire di Timnas Inggris era Gareth Southgate). Namun, mengingat tingginya pertaruhan di laga final ini, banyak pihak mempertanyakan keputusan Mikel Arteta menaruh Gabriel di posisi kelima.
Menanggapi kritik tersebut, Arteta mengaku sama sekali tidak menyesali keputusannya dan langsung pasang badan untuk sang pemain.
“Sejujurnya, dia [Gabriel] sendiri yang meminta untuk mengambil penalti nomor lima, kami sudah mempersiapkan dan berlatih untuk momen ini,” tegas Arteta kepada awak media usai kekalahan pahit tersebut.
“Normalnya, para pengambil penalti adalah Bukayo (Saka), Martin (Odegaard), dan pastinya Kai (Havertz). Kami sudah tahu bahwa jika laga berlanjut ke babak tambahan dan penalti, eksekutornya akan diisi oleh pemain-pemain yang berbeda,” pungkas sang manajer.



