Batal Cari Suaka, Aset Kapten Timnas Putri Iran Zahra Ghanbari Dikembalikan

Must Read

- Advertisement -
- Advertisement -

TEHERAN, OneSports – Drama politik yang menyelimuti skuad Timnas Putri Iran usai pergelaran Piala Asia Wanita 2026 memasuki babak baru.

Pemerintah Republik Islam Iran secara resmi telah mengembalikan seluruh aset milik sang kapten, Zahra Ghanbari.

Pemulihan aset ini dilakukan setelah gelandang berusia 34 tahun tersebut membatalkan niatnya untuk mencari suaka di Australia dan memilih terbang kembali ke kampung halamannya di Teheran.

Buntut Aksi Protes di Piala Asia Wanita 2026

Nama Zahra Ghanbari sebelumnya menjadi sorotan tajam dunia internasional. Ia merupakan satu dari lima pemain Timnas Putri Iran yang mengajukan permohonan suaka di Australia.

Aksi ini merupakan buntut dari protes keras mereka terhadap rezim pemerintah Iran, yang ditunjukkan dengan aksi tutup mulut alias menolak menyanyikan lagu kebangsaan saat turnamen berlangsung.

Tindakan pembangkangan tersebut memicu reaksi keras dari Teheran. Otoritas Iran langsung memasukkan nama Ghanbari ke dalam daftar hitam 400 orang ‘pendukung musuh’ negara, yang berujung pada penyitaan seluruh aset dan harta benda miliknya di Iran.

Disambut Bak Pahlawan

Namun, situasi berbalik 180 derajat ketika Ghanbari memutuskan untuk kembali. Mengutip laporan dari The Telegraph, pengadilan Iran menyatakan bahwa sang kapten tidak bersalah menyusul adanya “perubahan perilaku”. Kedatangannya di Teheran bahkan disambut dengan upacara khusus layaknya seorang pahlawan.

- Advertisement -

“Aset Zahra Ghanbari, seorang pemain sepak bola untuk tim nasional wanita Iran, yang telah disita, kini sudah dilepaskan sepenuhnya berdasarkan keputusan resmi pengadilan,” tulis media lokal Iran, Mizan.

Tudingan Tekanan Terhadap Keluarga

Meski kasus ini tampak berakhir damai di permukaan, kelompok hak asasi manusia (HAM) internasional menaruh kecurigaan besar.

Mereka menuduh otoritas Iran kerap menggunakan taktik kotor untuk menekan para atlet yang membelot di luar negeri, yakni dengan cara mengancam keselamatan kerabat atau menyita harta benda keluarga yang ditinggalkan.

Dalam kasus Ghanbari dan empat rekannya, para aktivis menuduh Teheran telah melakukan intervensi psikologis dengan memanggil orang tua para pemain untuk diinterogasi secara intensif oleh agen intelijen negara.

Di sisi lain, otoritas Iran dengan tegas membantah tudingan tersebut dan justru melemparkan bola panas kepada Australia, menuduh negara Kanguru itu sengaja berusaha mencuci otak dan memaksa para atlet Iran untuk membelot.

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest News

Daftar Cedera Pemain Barcelona Jelang Laga Krusial UCL Kontr...

Update daftar cedera pemain Barcelona jelang leg kedua perempat final Liga Champions melawan Atletico Madrid. Raphinha dan Christensen dipastikan menepi.
- Advertisement -