LOS ANGELES, OneSportsID – Di balik kemewahan red carpet dan gemerincing pundi-pundi dolar, industri hiburan Hollywood rupanya sedang dicengkeram ketakutan massal. Bintang veteran Marvel, Mark Ruffalo, tanpa ragu membongkar sisi gelap industri perfilman usai disepakatinya mega-merger raksasa antara Warner Bros. Discovery (WBD) dan Paramount senilai US$110 miliar (sekitar Rp1.700 triliun).
Ruffalo mengklaim bahwa banyak rekan seprofesinya yang mendadak ciut nyali dan menolak menandatangani petisi perlawanan karena dihantui ancaman pemboikotan alias masuk daftar hitam (blacklist) pihak studio.
Ribuan Berani Buka Suara, Sisanya Gemetar
Lewat sebuah tulisan opini tajam di The New York Times, Ruffalo bersama direktur riset American Economic Liberties Project, Matt Stoller, menguliti fenomena pembungkaman ini.
Meski surat terbuka penolakan dari BlockTheMerger.com telah diteken oleh lebih dari 4.000 pesohor—termasuk Florence Pugh, Pedro Pascal, Edward Norton, hingga sutradara visioner Denis Villeneuve dan Sofia Coppola—Ruffalo menyebut angka itu seharusnya bisa jauh lebih besar.
“Hal yang paling mengungkapkan tentang surat itu bukanlah orang-orang yang menandatanganinya. Melainkan orang-orang yang tidak menandatanganinya. Bukan karena mereka tidak setuju, tetapi karena mereka takut ada pembalasan,” tulis Ruffalo membongkar mentalitas industri saat ini.
Ketakutan akan kehilangan pekerjaan (job) membuat banyak seniman lebih memilih mengamankan posisi masing-masing ketimbang mengkritisi lahirnya raksasa monopoli baru di Hollywood.
Bukti Nyata Arogansi Studio Raksasa
Klaim ketakutan tersebut bukan pepesan kosong. Ruffalo dan Stoller membeberkan bukti nyata bagaimana gurita bisnis ini mulai membungkam perbedaan pendapat.
Ketika direktur editorial majalah independen The Ankler terlihat hadir di acara kampanye anti-merger, Paramount dilaporkan langsung menarik seluruh iklan promosi dari media tersebut secara sepihak.
Tak berhenti sampai di situ, saat Ruffalo diusulkan menjadi bintang tamu diskusi di stasiun televisi CNN, produser acara menolaknya mentah-mentah. Dalihnya jelas: CNN berafiliasi dengan WBD, dan perusahaan memiliki “pertimbangan hukum” terkait siapa yang boleh berbicara selama proses merger berlangsung.
Nasib Tontonan Dunia di Tangan Segelintir Elite
Kesepakatan bersejarah yang diresmikan pada 27 Februari 2026 ini sukses mengantarkan CEO Paramount, David Ellison, sebagai pemenang mutlak—bahkan memaksa Netflix untuk mundur teratur dari meja negosiasi.
Kubu anti-merger memperingatkan bahwa penggabungan entitas super besar ini akan membawa dampak destruktif. Jumlah studio film besar di Amerika Serikat kini menyusut drastis menjadi hanya empat perusahaan. Efek dominonya mengerikan: berkurangnya lapangan kerja produksi, matinya kreativitas independen, hingga melonjaknya biaya tiket dan layanan streaming bagi penonton global.
Meski pihak WBD-Paramount menebar janji manis akan memproduksi 30 film bioskop per tahun (15 film per studio) lengkap dengan jendela tayang eksklusif minimal 45 hari di bioskop, kelompok perlawanan enggan percaya begitu saja. Bagi Ruffalo dan para penandatangan petisi, dominasi mutlak dari kaum oligarki hiburan ini adalah lonceng kematian bagi kebebasan berekspresi di Hollywood jika tidak segera dilawan.


