OneSportsID โ Sejarah pemikiran umat manusia sering kali terjebak dalam pembacaan yang reduktif dan tergesa-gesa, terutama ketika berhadapan dengan tokoh-tokoh raksasa yang mencoba mendobrak tatanan konseptual zamannya.
Dua nama besar dari tradisi yang secara geografis dan historis berjauhanโMulla Sadra dari tradisi kebijaksanaan Islam Persia abad ke-17, dan Martin Heidegger dari tradisi fenomenologi eksistensial Jerman abad ke-20โkerap menjadi korban dari “kebutaan analitis” ini.
Sadra sering kali dituduh jatuh ke dalam lubang dogmatisme teologis, seolah-olah ia murni seorang apologet yang menggunakan filsafat semata-mata untuk membenarkan doktrin agama.
Di sisi lain, Heidegger sering kali dicap sebagai nabi nihilisme modern, dituduh membunuh Tuhan lewat serangannya yang tanpa ampun terhadap bangunan onto-teologi Barat.
Namun, apabila kita melangkah melampaui pembacaan di tingkat permukaan, kita akan menemukan sebuah ironi yang memukau: keduanya justru sedang melakukan sebuah gerakan penyelamatan yang strukturnya sangat identik.
Keduanya adalah “Penjaga Wujud” (Hรผter des Seins) yang berupaya keras melindungi misteri eksistensi dari dua ancaman mematikan yang berlawanan arah, yakni pembekuan absolut dalam dogma dan pengosongan total dalam nihilisme.
Artikel panjang ini akan membedah secara radikal anatomi pemikiran kedua filsuf tersebut, menelusuri bagaimana struktur epistemologi dan ontologi yang mereka bangun justru menjadi pelindung utama bagi kelenturan dan kedalaman makna Wujud itu sendiri.
BAGIAN I: Anatomi Pemikiran Mulla Sadra โ Teologi Sebagai Kesimpulan, Bukan Premis
Kesalahan paling fatal dan fundamental dari para pembaca, kritikus, dan bahkan beberapa pengikut Mulla Sadra adalah asumsi metodologis bahwa ia memulai filsafatnya dari titik tolak teologis (Tuhan) untuk kemudian menurunkannya menjadi struktur ontologis.
Pembacaan ini menghasilkan ilusi bahwa sistem Hikmah al-Muta’aliyah (Teosofi Transenden) yang dibangun Sadra hanyalah sekadar deduksi dogmatis.
Faktanya, arsitektur pemikiran Sadra beroperasi dengan cara yang terbalik secara radikal. Sadra memulai penyelidikannya dari pengalaman yang paling gamblang, paling dasar, dan paling swa-bukti (self-evident), yakni realitas Wujud itu sendiri (al-wujud bayyinun bi dhatihi).
Dalam sistem Sadra, Tuhan bukanlah premis dogmatis yang dipaksakan dari luar untuk memulai sebuah argumen, melainkan sebuah kesimpulan ontologis yang tak terelakkan dari pendalaman terhadap intensitas wujud.
Urutan ini secara diam-diam membalikkan tradisi onto-teologi klasik yang kelak akan dikritik habis-habisan oleh Heidegger.
Untuk mencegah sistemnya membeku menjadi dogmatisme yang kaku, Sadra menanamkan tiga pilar atau struktur internal di dalam maha karyanya, Al-Asfar Al-Arba’ah:
1. Ashalat al-Wujud (Keutamaan Wujud) Menghancurkan Esensialisme
Dogmatisme selalu membutuhkan “esensi” (kuiditas/mahiyah) yang terdefinisi secara pasti untuk bisa beroperasi. Dogma bekerja dengan merumuskan klaim statis:
“Tuhan adalah X,” di mana X adalah sebuah batasan konseptual. Melalui prinsip ashalat al-Wujud, Sadra menghancurkan fondasi tersebut dengan menyatakan bahwa esensi hanyalah abstraksi kosong yang diciptakan oleh akal budi manusia.
Yang benar-benar riil, primer, dan mendasar hanyalah Wujud dalam berbagai derajat intensitasnya (tasykik al-wujud).
Karena Wujud bersifat dinamis dan tak terbatas, maka tidak ada satu pun definisi konseptual atau esensi yang mampu memenjarakan keluasan Being.
Dengan demikian, dogmatisme kehilangan pijakan ontologisnya dalam sistem Sadra.
2. La Yataโayyan (Ketidaktertentuan Mutlak)
Struktur kedua yang membentengi Sadra dari dogmatisme adalah penegasannya bahwa Wujud Mutlak berada dalam kondisi la yata’ayyanโtidak bisa ditentukan, dibatasi, atau diikat oleh satu determinasi atribut apa pun.
Wujud di puncak intensitasnya bersifat telanjang dari segala identitas yang diciptakan akal. Ini bukanlah bentuk agnostisisme yang menyerah pada pencarian kebenaran, melainkan sebuah apophaticism ontologis (teologi negatif) yang inheren di dalam sistemnya.
Sadra meyakini bahwa puncak dari segala wujud akan selalu melampaui (meluber) dari setiap konsep, kata, atau rumusan teologis yang mencoba menunjuknya.
Mengurung Tuhan dalam satu rumusan kata sama saja dengan mendegradasi Wujud Mutlak menjadi entitas terbatas.
3. ‘Ilm Huduri (Pengetahuan Presensial) Melampaui Proposisi
Dogma secara inheren adalah sebuah proposisi; ia adalah klaim verbal tentang kebenaran. Sadra merevolusi epistemologi dengan menempatkan ‘ilm huduri (pengetahuan melalui kehadiran langsung) jauh di atas ‘ilm hushuli (pengetahuan konseptual/representasional).
Pengetahuan presensial adalah pengalaman eksistensial di mana subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui menyatu tanpa perantara konsep atau bahasa.
Dengan menjadikan ‘ilm huduri sebagai puncak epistemologi, Sadra secara implisit mendeklarasikan bahwa tidak ada satu pun rumusan dogmatis, seketat apa pun itu, yang cukup memadai untuk merangkum Tuhan.
Dogmatisme yang sering dituduhkan kepada Sadra pada kenyataannya lahir dari para penerus yang tidak setia, yang menggunakan ‘ilm huduri sebagai alat otoritarian untuk membungkam dialog, membekukan apa yang pada awalnya dimaksudkan Sadra sebagai keterbukaan eksistensial yang dinamis.
BAGIAN II: Martin Heidegger dan Destruksi Onto-Teologi โ Sebuah Pembukaan, Bukan Penutupan
Di belahan dunia yang lain, Heidegger menggebrak panggung filsafat Barat dengan sebuah proyek raksasa:
Destruksi Sejarah Metafisika. Tuduhan nihilisme yang dialamatkan kepadanya berakar dari ketidakmampuan pembaca membedakan antara “menolak konsep Tuhan Barat” dengan “menolak Kehadiran Mutlak”.
Heidegger menolak onto-teologi bukan karena ia membenci Being (Wujud), justru karena ia sangat menghormatinya.
Tradisi filsafat Barat selama dua milenium telah mereduksi pertanyaan tentang Being menjadi sesuatu yang trivial dengan menjawabnya terlalu cepat:
“Apa itu Wujud? Wujud adalah Kausa Prima, Wujud adalah Tuhan.” Bagi Heidegger, jawaban prematur ini telah membunuh misteri dan ketakjuban akan Being itu sendiri.
Penolakan Heidegger terhadap onto-teologi adalah upaya resusitasiโmenghidupkan kembali denyut nadi pertanyaan eksistensial yang telah lama mati kaku di atas meja operasi metafisika.
Sama seperti Sadra, Heidegger membangun tiga struktur internal yang menyelamatkannya dari jurang nihilisme:
1. Ereignis: Peristiwa Keintiman, Bukan Kekosongan
Dalam pemikiran Heidegger periode akhir (pasca-Kehre atau pembalikan), konsep Ereignis (Peristiwa/Appropriation) muncul sebagai pusat gravitasinya.
Ereignis bukanlah sebuah ruang hampa yang nihilis, melainkan sebuah “peristiwa” purba di mana Being dan manusia saling mengklaim, saling membutuhkan, dan saling menemukan satu sama lain dalam sebuah relasi yang intim.
Ereignis digambarkan memiliki karakter yang mendalam: Stille (keheningan yang berbicara), Innigkeit (keintiman esensial), dan Zusammengehรถrigkeit (keterhubungan bersama yang radikal).
Ini sama sekali bukan wajah dari nihilisme; ini adalah puncak dari pengalaman Wujud yang paling personal dan mistis yang bisa dicapai oleh manusia.
2. Lichtung (Ruang Terbuka/Keterangan)
Kesalahan fatal para kritikus adalah menyamakan ketiadaan fondasi (Grund) dalam Heidegger dengan ketiadaan makna (nihilisme). Heidegger memperkenalkan konsep Lichtungโsebuah pembukaan atau ruang terang di tengah hutan lebat.
Lichtung bukanlah kekosongan yang mematikan, melainkan justru “kondisi kemungkinan” agar entitas apa pun bisa hadir dan menampakkan maknanya.
Nihilisme secara definisi adalah penutupan segala makna, sementara Lichtung adalah panggung yang membuka ruang bagi cahaya makna untuk menari. Keduanya beroperasi sebagai sepasang oposisi biner, bukan sinonim.
3. Etika Tersembunyi: Manusia sebagai Penjaga Wujud
Banyak yang menuduh Heidegger gagal merumuskan etika. Namun, etikanya tidaklah absen, melainkan tersembunyi jauh di dalam lapisan ontologinya.
Dengan mendefinisikan esensi manusia sebagai Hรผter des Seins (Penjaga Wujud) atau gembala bagi keberadaan, Heidegger meletakkan tanggung jawab yang luar biasa berat di pundak kemanusiaan.
Tanggung jawab ini tidak bersifat arbitrari; manusia dituntut untuk menjaga keterbukaan Being, melawan segala bentuk teknologi yang mengeksploitasi (Gestell) dan sistem yang membekukan wujud menjadi sekadar “sumber daya”.
Ini bukanlah relativisme atau nihilisme moral, melainkan sebuah panggilan etis profetik yang berakar langsung pada struktur Being itu sendiri.
Sikap Gelassenheit (kelepasan, kepasrahan yang waspada) menjadi modus autentik manusia dalam merespons panggilan tersebut.
BAGIAN III: Konvergensi Sang Penjaga Wujud โ Musuh Bersama di Balik Cermin
Jika kita meletakkan pemikiran Mulla Sadra dan Martin Heidegger secara berdampingan dengan lensa pembacaan yang adil dan holistik, kita akan menemukan bahwa keduanya sebenarnya sedang bertempur melawan musuh yang identik, hanya saja mereka datang dari dua arah sejarah yang berlawanan:
- Sadra berupaya melindungi kepenuhan, intensitas, dan kesucian Being dari reduksi konseptual serta pembekuan dogmatis kaum esensialis dan teolog skolastik di Timur.
- Heidegger berupaya melindungi misteri dan keterbukaan Being dari penutupan prematur dan objektivikasi oleh rasionalisme, teknologi, dan jawaban teologis yang kaku di Barat.
Keduanya menolak keras gagasan bahwa Being (Wujud) dapat “dimiliki”, “diklaim”, atau “dikendalikan” oleh sebuah sistem pemikiran, oleh institusi agama, maupun oleh rumusan akademis apa pun. Dan justru di titik perlawanan inilah konvergensi filosofis mereka mencapai tingkat kedalaman yang paling radikal:
Konsep la yataโayyan (ketidaktertentuan mutlak) dari Sadra dan konsep Entzug (penarikan diri/ketersembunyian) dari Heidegger pada hakikatnya adalah dua nama yang berbeda untuk menunjuk pada satu realitas kebenaran universal yang samaโbahwa Being akan selalu bergerak melampaui, menyelinap, dan menolak setiap upaya manusia untuk menangkap dan membekukannya ke dalam kerangkeng bahasa dan konsep.
Bahkan dalam hal penggunaan instrumen bahasa, keduanya menemukan kebuntuan yang serupa dan mengambil jalan keluar yang radikal.
Sadra masih berupaya mendaur ulang terminologi teologis dan mistik Islam klasik (seperti Wujud, Mahiyah, Tajalli), namun ia mencairkan kekakuan kata-kata tersebut, memberikan mereka “nyawa” ontologis yang baru dan dinamis.
Sementara itu, Heidegger merasa bahwa bahasa filsafat Barat telah rusak parah dan terinfeksi oleh virus pembendaan (thingness), sehingga ia merasa harus menggali akar etimologi Yunani kuno atau menciptakan kosa kata bahasa Jerman yang sama sekali baru (neologisme) agar dapat membicarakan Being tanpa merendahkannya menjadi sekadar objek.
Kesimpulan: Menjaga Api Pertanyaan Tetap Menyala
Sintesis lintas tradisi ini membawa kita pada kesimpulan akhir yang sangat membebaskan. Teologi yang dibangun oleh Mulla Sadra terbukti tidak dogmatis, karena Tuhan di dalam sistemnya bukanlah sebuah premis statis yang menghentikan pikiran, melainkan sebuah nama untuk intensitas wujud yang tak terhingga dan tak terdefinisi yang justru memantik pencarian spiritual abadi.
Di sisi lain, destruksi onto-teologi yang digaungkan oleh Martin Heidegger terbukti sama sekali tidak nihilis. Ia bukanlah figur yang membunuh Being, melainkan seorang pemberontak yang menolak klaim kepemilikan manusia atas Being.
Pada akhirnya, Mulla Sadra dari Isfahan dan Martin Heidegger dari Black Forest, dengan mengenakan pakaian tradisi dan idiom bahasa yang sepenuhnya berbeda, sejatinya sedang mengemban tugas yang sama:
menjaga “Api Wujud” agar terus berkobar. Mereka mengajarkan kita bahwa pertanyaan tentang eksistensi, tentang Tuhan, dan tentang keberadaan tidak boleh dimatikanโbaik itu dibunuh oleh dogma yang merasa terlalu yakin karena merasa telah memegang seluruh kebenaran, maupun dimatikan oleh nihilisme yang merasa terlalu putus asa karena merasa kebenaran tidak lagi bermakna.
Filsafat, di tangan kedua penjaga ini, kembali pada kodrat aslinya: sebuah keterbukaan yang penuh ketakjuban terhadap realitas.


