Josep “Pep” Guardiola akhirnya mengambil keputusan besar untuk menyudahi masa baktinya bersama Manchester City. Laga penutup kompetisi domestik melawan Aston Villa di Etihad Stadium akan menjadi momen terakhir sang manajer legendaris berdiri di tepi lapangan sebagai juru taktik The Citizens.
Meninggalkan kursi kepelatihan setelah satu dekade, Guardiola menegaskan bahwa ia tidak akan terburu-buru mencari pelabuhan baru. Ia memilih untuk menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia sepak bola setelah melalui sepuluh musim yang sangat menguras energi.
Era kepemimpinan Guardiola di Inggris telah membawa Manchester City menuju puncak kejayaan yang belum pernah dicapai sebelumnya. Selama satu dekade, ia sukses mempersembahkan 20 trofi bergengsi. Catatan kariernya pun terbilang fenomenal, di mana ia hanya melewatkan dua musim tanpa raihan gelar, yakni pada tahun 2017 dan 2025.
Puncak kariernya bersama The Citizens terjadi pada musim 2022/2023, saat ia mencatatkan sejarah dengan meraih treble winners. Dominasi taktiknya juga tercermin dalam enam gelar juara liga yang ia persembahkan bagi publik Etihad.
Namun, kesuksesan masif tersebut menuntut harga yang sangat mahal. Obsesi mendalam Guardiola terhadap detail strategi sepak bola disinyalir menjadi beban besar dalam kehidupan pribadinya. Tekanan pekerjaan yang konstan disebut-sebut menjadi salah satu pemicu retaknya rumah tangga Guardiola dengan istrinya, Cristina Serra, hingga berujung pada perpisahan pada tahun lalu.
Kini, dengan berakhirnya perjalanan di Manchester, dunia sepak bola menanti langkah apa yang akan diambil pria berusia 55 tahun ini di masa depan. Untuk saat ini, fokus Guardiola hanyalah menutup babak panjang kariernya dengan sebuah perpisahan yang manis bersama para pemain dan pendukung setianya.


