JAKARTA – Masifnya gelombang naturalisasi pemain keturunan (diaspora) yang dilakukan oleh Timnas Indonesia belakangan ini ternyata menarik perhatian besar dari media Eropa.
Baru-baru ini, Algemeen Dagblad (AD), salah satu surat kabar ternama di Belanda, menyoroti secara khusus sosok di balik layar dari proyek ambisius PSSI tersebut.
Jurnalis Algemeen Dagblad, Fabian van der Pool, secara spesifik menyebut nama Fardy Bachdim, seorang agen pemain asal Mijdrecht, Belanda.
Fardy diduga memiliki peran sentral sebagai penghubung dalam proses naturalisasi beberapa nama besar yang baru saja bergabung.
Kecurigaan media Belanda tersebut bermula dari kehadiran Fardy Bachdim di Roma, Italia, bertepatan dengan momen proses naturalisasi penjaga gawang Emil Audero, serta dua pemain keturunan lainnya, Joey Pelupessy dan Dean James.
“Agen pemain ini tidak kebetulan berada di sana hari itu di Roma, ibu kota Italia. Fardy Bachdim memainkan peran penting di balik layar dalam proses naturalisasi.
Ia dianggap sebagai penghubung hebat; sosok yang memiliki banyak koneksi,” tulis Fabian van der Pool dalam laporannya.
Lebih lanjut, jurnalis asal Belanda itu mengibaratkan Fardy sebagai “bidak catur yang digerakkan” untuk membantu merekrut pemain sepak bola kelahiran Belanda agar bersedia membela Timnas Indonesia.
Bantahan Fardy dan Misteri Proses Kilat
Meski kehadirannya terekam jelas dalam momen-momen penting tersebut, Fardy Bachdim dengan tegas membantah tudingan bahwa dirinya adalah dalang di balik layar.
Kepada media, Fardy menyatakan bahwa ia “tidak memiliki peran sama sekali” dalam urusan birokrasi tersebut.
Bantahan ini justru memicu rasa penasaran yang lebih besar dari media Belanda.
Mereka mempertanyakan sejauh mana para pemain ini memahami aturan migrasi antarnegara dan apa sebenarnya peran seorang agen dalam ranah yang seharusnya menjadi yurisdiksi federasi dan negara.
“Selama beberapa hari terakhir, kami telah berbicara dengan berbagai orang yang terlibat. Pertanyaannya adalah apakah mereka dapat berbagi bagaimana prosedur naturalisasi berlangsung. Namun, jawabannya biasanya: ‘sebaiknya tidak’,” lanjut laporan Algemeen Dagblad.
Media Belanda tersebut juga dibuat takjub dengan kecepatan birokrasi di Indonesia saat ini.
Jika di masa lalu proses perpindahan kewarganegaraan bisa memakan waktu bertahun-tahun, kini proses tersebut diklaim bisa diselesaikan hanya dalam kurun waktu empat minggu.
Manuver PSSI Memanfaatkan Jaringan Agen
Percepatan dan efisiensi ini tidak lepas dari arah baru yang ditetapkan oleh PSSI.
Di bawah komando Ketua Umum Erick Thohir, federasi sepak bola Tanah Air memang memiliki ambisi besar untuk memaksimalkan potensi diaspora Indonesia di seluruh dunia demi mendongkrak prestasi Timnas di level global.
Menurut pandangan media Belanda, langkah PSSI dalam mencari pemain keturunan kini sudah mengadopsi cara kerja klub profesional di Eropa.
“Sama seperti klub, federasi juga bekerja sama dengan agen. Sama seperti agen yang mencari klub di pasaran, Indonesia juga secara cerdas memanfaatkan jaringan agen pemain untuk memetakan dan merekrut talenta-talenta terbaiknya,” pungkas laporan tersebut.

