Poin Utama:
- Mohamed Salah secara terbuka menuntut Liverpool kembali ke gaya sepak bola ‘heavy metal’ di era Arne Slot.
- Curhatan sang Raja Mesir di media sosial disinyalir sebagai bentuk kekecewaannya karena kerap diparkir di bangku cadangan.
- Legenda The Reds, John Arne Riise, meradang dan menilai Salah seharusnya bisa menjaga ketenangan hingga akhir musim.
- Sikap Salah memicu publik menyamakannya dengan drama kontroversial Cristiano Ronaldo dan Erik ten Hag di Manchester United.
Ruang ganti Liverpool sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Alih-alih menutup musim dengan perpisahan yang manis, Mohamed Salah justru memicu api drama yang membuat para legenda The Reds ikut kepanasan. Semuanya berawal dari manuver sang Raja Mesir di media sosial yang terang-terangan menyenggol taktik sang manajer, Arne Slot.
Lewat unggahan di Instagram pribadinya, Salah blak-blakan menuntut agar Liverpool mengembalikan DNA serangan heavy metal yang menakutkan—sebuah sindiran menohok terhadap sistem permainan racikan Slot saat ini.
“Saya ingin melihat Liverpool kembali menjadi tim menyerang yang heavy metal yang ditakuti lawan… Itu tidak bisa ditawar dan semua yang gabung klub ini harus menyesuaikan diri,” tulis Salah. Tensi emosi ini disinyalir memuncak lantaran Salah belakangan kerap dicadangkan, hingga ia sempat curhat merasa “dilempar ke kolong bus” jelang pertengahan musim lalu.
Namun, plot twist-nya, narasi yang dibangun Salah ini justru berbalik menjadi bumerang. Publik mulai menyadari bahwa aksi protes ini sama sekali tidak mendapat simpati dari para tetua klub. John Arne Riise, eks bek sayap mematikan Liverpool era 2001-2008, mengaku shock berat membaca luapan emosi tersebut.
“Saya bertemu Salah beberapa kali, dia pribadi yang ramah, penuh respek, dan baik hati. Makanya, saya tidak habis pikir dengan komentarnya. Saya merasa, itu seperti ditulis oleh orang lain,” ungkap Riise dengan nada tak percaya.
Kekecewaan Riise nyatanya tak berhenti di rasa heran. Baginya, kultur saling menghormati di Anfield adalah harga mati yang tak boleh dirusak oleh siapa pun. Mengingat Salah sudah hampir pasti bakal angkat koper dari Merseyside di akhir musim, Riise menilai aksi bintang 33 tahun itu sangat tidak etis.
“Saya kesal karena Mohamed Salah setidaknya tidak bisa menunggu sampai musim selesai sebelum mengatakan hal-hal itu. Semua orang tahu dia akan pergi, jadi mengapa tidak menyimpan pendapat itu untuk diri sendiri?” cetusnya tajam.
Kecaman ini semakin menambah daftar panjang pandangan miring terhadap Mo Salah pekan ini. Sebelumnya, Jamie Carragher juga tak ragu menyentil kelakuan Salah, menyamakannya dengan drama Cristiano Ronaldo yang menyerang Erik ten Hag sesaat sebelum ditendang dari Manchester United beberapa waktu lalu.
Kini tinggal menunggu waktu, akankah bulan-bulan terakhir Salah di Anfield akan dihabiskan sebagai legenda yang terus dielu-elukan, atau ia justru memilih pergi dari pintu belakang dengan mewariskan perpecahan di ruang ganti? Momen perpisahan ini sungguh terasa makin awkward!



