Poin Utama:
- Arsenal sukses mengakhiri puasa gelar 22 tahun dengan merengkuh trofi divisi teratas ke-14 mereka.
- Kepastian juara didapat usai sang rival, Man City, tertahan imbang 1-1 oleh Bournemouth di pekan krusial.
- Derbi London Utara jadi kunci: The Gunners membantai Tottenham Hotspur 4-1 secara beruntun di laga kandang dan tandang musim ini.
- Kontribusi magis rekrutan anyar Eberechi Eze, Viktor Gyokeres, hingga wonderkid 16 tahun Max Dowman menjadi katalisator gelar juara.
London Utara akhirnya meledak! Setelah 22 tahun dihantui puasa gelar dan rasa penasaran akibat “hanya” finis sebagai runner-up di tiga musim beruntun, kutukan itu akhirnya musnah. Arsenal resmi kembali ke singgasana dan dinobatkan sebagai kampiun Premier League musim 2025/26.
Momen klimaks ini dipastikan usai Manchester City—sang rival abadi dalam perebutan gelar—secara dramatis tertahan 1-1 oleh Bournemouth. Hasil tersebut membiarkan armada Mikel Arteta duduk nyaman dengan keunggulan empat poin jelang pekan terakhir. Namun, trofi ini bukan sekadar hadiah dari kepelesetnya skuad Pep Guardiola. Ini murni soal mentalitas baja, keringat, dan air mata The Gunners sepanjang musim.
Publik mulai menyadari ada monster yang terbangun di dalam skuad Arteta sejak September 2025. Saat menjamu Man City, Gabriel Martinelli sukses menyelamatkan poin lewat gol telat di stoppage time. Seminggu berselang, nyali mereka kembali diuji di St. James’ Park. Tertinggal dari Newcastle, Arsenal membalikkan keadaan lewat tandukan maut Gabriel Magalhaes di menit ke-96. Sinyal juara itu mulai menyala terang.
Namun, tak ada yang lebih memuaskan bagi publik Emirates selain menghancurkan rival sekota, Tottenham Hotspur. Tak banyak yang menyangka Arsenal bakal membantai Spurs 4-1 tanpa ampun pada November lalu, diwarnai hat-trick sensasional Eberechi Eze—pemain yang ironisnya sempat hampir direkrut Spurs. Pembantaian itu diulang lagi pada bulan Februari lewat skor identik 4-1 di markas Tottenham. North London is completely red.
Tensi musim ini juga melahirkan sejarah baru. Saat laga buntu kontra Everton di bulan Maret, Viktor Gyokeres memecah kebuntuan di menit ke-89. Namun, momen paling epik justru dicuri oleh bocah berusia 16 tahun, Max Dowman. Setelah memberikan assist krusial, wonderkid ini berlari mengacak-acak pertahanan lawan untuk memastikan kemenangan 2-0. Momen ini terasa seperti keluar dari skrip film Hollywood!
Perjalanan panjang ini akhirnya mencapai titik didih di markas West Ham pada 10 Mei. Laga yang membuat dada fans berdebar ini diselamatkan oleh performa kesetanan David Raya di bawah mistar dan gol tunggal Leandro Trossard. Drama makin gila saat gol penyama kedudukan Callum Wilson dianulir oleh VAR. Di titik itulah, napas lega dihembuskan. Arsenal tak bisa dikejar lagi.
Ini bukan sekadar trofi untuk mengakhiri penantian 22 tahun. Ini adalah pembuktian mutlak bahwa proyek kesabaran Mikel Arteta telah membuahkan hasil absolut. Jika melihat daya juang skuad ini, Premier League mungkin baru saja menyambut lahirnya dinasti baru yang siap meneror daratan Inggris bertahun-tahun ke depan.



