RIO DE JANEIRO, OneSports – Menjelang bergulirnya perhelatan akbar Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sebuah revolusi taktik tampaknya tengah dipersiapkan secara matang di dalam tubuh Timnas Brasil.
Carlo Ancelotti, juru taktik legendaris asal Italia yang kini memegang tongkat komando skuad Selecao, secara mengejutkan melontarkan pernyataan yang cukup kontroversial.
Sang allenatore secara terang-terangan menegaskan bahwa dirinya tidak akan mengedepankan filosofi permainan indah atau Jogo Bonito di turnamen tersebut.
Beban yang dipikul oleh Ancelotti di kursi kepelatihan Tim Samba memang sangatlah berat. Publik sepak bola Brasil saat ini sedang dilanda dahaga gelar yang luar biasa.
Terakhir kali mereka mampu mengangkat trofi emas Piala Dunia adalah pada edisi 2002 di Korea-Jepang, alias sudah lebih dari dua dekade atau tepatnya 24 tahun lamanya.

Ekspetasi raksasa dari jutaan pendukung di tanah air memaksa Ancelotti untuk berpikir pragmatis demi memutus rekor buruk tersebut.
Rapor Sepuluh Laga Perdana Don Carlo
Sejak resmi mengambil alih kursi pelatih utama, Carlo Ancelotti tercatat telah mengarungi 10 pertandingan kompetitif maupun persahabatan bersama Timnas Brasil.
Dari sepuluh laga tersebut, racikan strategi pelatih berjuluk Don Carlo ini menghasilkan catatan lima kali kemenangan, dua kali hasil imbang, dan harus menelan tiga kali kekalahan.
Secara statistik, produktivitas lini serang Brasil di bawah asuhan Ancelotti sebenarnya tidak terlalu mengecewakan. Mereka sukses menceploskan total 18 gol ke gawang lawan, membuktikan bahwa naluri membunuh para penyerang Brasil masih sangat tajam.
Namun, yang menjadi sorotan utama sang pelatih adalah catatan lini belakang mereka yang telah kebobolan sebanyak delapan kali.
Menjelang kick-off turnamen paling bergengsi sejagat tersebut, Ancelotti menegaskan kepada seluruh jajaran pemain dan stafnya bahwa fondasi utama kekuatan timnya nanti tidak akan diletakkan di sektor lini serang, melainkan harus dibangun dengan kokoh dari lini pertahanan.
Pragmatisme Italia Membunuh Jogo Bonito?
Bagi masyarakat Brasil, Jogo Bonito bukanlah sekadar taktik di atas lapangan hijau, melainkan sudah menjadi bagian dari budaya, identitas, dan DNA bangsa.
Istilah ini merepresentasikan gaya permainan sepak bola yang menghibur penonton, di mana para pemain memamerkan keahlian individu (skill) tingkat tinggi, tarian samba dengan bola, operan satu sentuhan yang cepat, hingga trik-trik yang mengundang decak kagum.
Namun, di mata seorang Carlo Ancelotti yang tumbuh besar dengan filosofi Catenaccio (pertahanan grendel) khas Italia, sepak bola turnamen adalah tentang bagaimana cara untuk menang dan bertahan hidup, bukan sekadar tampil menghibur.
“Gelar juara Piala Dunia itu selalu ditentukan oleh tim mana yang paling sedikit kebobolan, bukan tim mana yang paling banyak mencetak gol.
Saya sebenarnya tidak terlalu suka jika tim saya disebut sebagai tim yang sangat defensif, tapi harus diakui, pertahanan yang rapat adalah kunci utamanya,” jelas pelatih yang pernah sukses besar bersama Real Madrid dan AC Milan tersebut, sebagaimana dilansir dari wawancara dengan ESPN.
Ia menyadari bahwa keputusannya ini berpotensi memicu kritik dari para puritan sepak bola Brasil yang mendambakan atraksi Jogo Bonito. Namun, ia dengan tegas memberikan pandangannya. “Anda bertanya soal Jogo Bonito? Silakan lihat sejarah.
Brasil memenangkan dua trofi Piala Dunia terakhir mereka bukan sekadar karena atraksi, melainkan dengan menggabungkan bakat luar biasa di depan dan struktur pertahanan yang sangat disiplin,” tegasnya.
Belajar dari Sejarah Kesuksesan 1994 dan 2002
Untuk memperkuat argumen taktisnya, Carlo Ancelotti mengajak publik untuk kembali menengok sejarah kesuksesan Timnas Brasil di masa lalu.
Ia menegaskan bahwa bakat individu saja tidak akan pernah cukup untuk menaklukkan kerasnya persaingan di level dunia tanpa adanya sistem pertahanan yang terorganisasi dengan rapi.
“Anda boleh saja memiliki deretan barisan penyerang terbaik dan paling mematikan di dunia saat ini, tapi tanpa adanya lini pertahanan yang solid untuk menopang mereka, rasanya akan sangat mustahil untuk bisa memenangkan Piala Dunia,” ungkap Ancelotti memberikan peringatan keras kepada anak asuhnya.
Sang Don Carlo kemudian menyinggung dua momen bersejarah ketika Tim Samba terakhir kali keluar sebagai kampiun.

“Pada turnamen tahun 1994, Brasil bermain dengan sangat pragmatis menggunakan dua baris yang terdiri dari empat pemain sejajar untuk melindungi gawang dan mendukung pergerakan Romario serta Bebeto di depan.
Kemudian pada tahun 2002, pelatih Scolari sukses karena menggunakan sistem solid dengan tiga bek tengah,” tutup Ancelotti membedah strategi pendahulunya.
Pendekatan pragmatis nan realistis yang diusung oleh Carlo Ancelotti ini dipastikan akan mengubah wajah Timnas Brasil di Piala Dunia 2026.
Publik kini hanya tinggal menunggu waktu, apakah racikan pertahanan khas Italia yang digabungkan dengan bakat alamiah Samba ini mampu mengakhiri puasa gelar panjang mereka, atau justru akan berujung pada kekecewaan besar di tanah Amerika.

